Laman

Senin, 30 Juli 2012

Matarmaja VI

Tebing batu di pinggir pantai
Ngrawan (Tempursari, Lumajang) November 2008

Krisis global September 2008 berimbas pada goncangnya perekonomian Indonesia, tak pelak bagi kami, meskipun hanya usaha rosok an imbasnya sangat besar. Harga-harga barang rosok an menurun drastis, semisal besi yang semula 6 ribu per kilo, turun drastis menjadi 2700.. tak terbayangkan kerugian yang kami tanggung, beberapa kuintal besi yang belum kami kirim kini menjadi sumber kerugian utama kami. Akhirnya kami terpaksa menjualnya dengan harga seadanya, karena harga terus menurun secara signifikan, hingga berhenti di Rp. 1.800 pada bulan Oktober 2008.

Kabar gulung tikarnya teman-teman sesama lapak rosok an sudah kami dengar, ada yang rugi 2 M, 100 Jt, dan macam-macam.. untung kami merugi tidak lebih dari 50 jt. namun itu semua adalah uang bank, mau tidak mau kami harus menanggungnya..

Tidak sampai disitu ternyata.. Karena hari-hari kemudian para pencari rosok (bakul-bakul) berhenti mencari rosok, mereka beralih profesi, ada yang menjadi petani, bangkat tebu (kuli angkut tebu), dll. Karena sudah sangat sulit mendapatkan barang. Masyarakat yang semula menjual barang-barang nya dengan harga tinggi, kini tidak mau dibeli dengan harga rendah, karena sebagian dari mereka tidak mengerti tentang krisis yang melanda dunia. Pabrik seng tutup, seng menjadi tidak laku, begitupun barang- barang lainnya, harganya menurun drastis.

Cara demi cara kami pikirkan, akhirnya mau tidak mau kami hijrah dari Malang menuju Lumajang, tepatnya di sebuah pesisir yang di kelilingi bebukitan.. Tempursari... disinilah babak baru sebuah kehidupan dimulai.

Bertiga (Saya, Pak Guru (Nur) dan keponakan ku Wahyu) mengadu nasib di sini. Dengan mengontrak sebuah rumah kosong di desa Bureng, kami memulai petualangan kami. Berbekal sepeda motor RC 100 sewaan dan sebuah yamaha 70, kami berjalan dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung. Sungguh kehidupan yang sangat berkesan bagi saya, berada jauh dari kampung halaman, berjuang mencari kehidupan. Tak ada target apapun waktu itu, dapat makan setiap hari sudah alhamdulillah..

4 hari sekali kami harus setor, karena modal kami di pinjami oleh seorang juragan di Kepanjen Malang, makanya kami di kejar target, minimal 1 truk muatan untuk 4 hari. Pukul 9 kami berangkat, pulang pukul 5, dan menata barang sampai pukul 8, kadang 9. Belum lagi kalo mobil yang menjemput barang- barang kami datang malam-malam, jam 2, bahkan jam 3.

Dari situ kondisi spiritualku mulai membaik, semula yang tak menghiraukan masalah agama, kini berangsur-angsur mulai rajin sholat. Minuman-minuman haram pun perlahan ku tinggalkan. Dan mungkin itulah hikmah dari petualanganku di Tempursari.

Sejatinya Tempursari adalah tempat yang sangat indah, pantai-pantai yang bersih dengan ombak khas samudera hindia yang besar seakan siap menelan siapapun yang siap mendekat. Tebing-tebing karang terjal menjulang tinggi dan hamparan padang pasir di pinggiran pantai, serta ribuan camar yang berkumpul menghangatkan badan di antara batas pantai dengan laut adalah pemandangan luar biasa, serta sungai-sungai yang mengalirkan lahar gunung Semeru yang berpasir halus..

Inilah cerita bulan pertama kami berada di Tempursari Lumajang Jika ada kesempatan, rasanya ingin ku  mengulang kembali kenangan-kenangan itu, disitulah mulai ku mengerti akan arti perjuangan, kehidupan, persahabatan, dan syukur..

Rabu, 25 Juli 2012

Kehilangan Hp

Semalam tidurku tidak nyenyak gara-gara dibangunin Marjo, katanya ada Hp yang hilang milik temannya Bento yang kebetulan main di kontrakan kami. Saya dan Marjo adalah penunggu kontrakan kami malam tadi bersama Pakde Indra yang sudah terlelap.
Saya tidur sekitar jam 11, karena paginya harus kerja, sedangkan Marjo biasanya tidur pagi-pagi, karena kerjaannya cuma jaga rental komputer dan kontrakan kami.

Baru sak klerepan eh sudah dibangunin gara-gara hape yang ilang tadi, dikira aku tahu hapenya dimana. Dengan agak misuh sitik dalam hati, saya bilang gak tau, cuek, kemudian tidur lagi... terlelaplah ke dunia mimpi.

Lagi asik-asiknya mimpi makan hambergur plus singkong bakar, dipadu dengan teh panas plus gula jawa. Tiba-tiba ada yang bangunin.... sembari menahan mata yang gak mau melek tercium bau Bento yang khas karena sering tidak mandi selama beberapa hari dalam kehidupannya yang nomaden.
" Bro ono masalah ki".. kata Bento
" Masalah opo tho.." tanyaku cuek..
" Tangi sek tho.."
Terpaksa saya bangun juga.. mendengarkan cerita si Bento yang ternyata adalah masalah Hp tadi malam.. dari awal dari akhir Bento bercerita, kalo mereka (teman Bento plus dianya) curiga bahwa yang ngumpetin Hp adalah Marjo, karena pas disitu hanya ada Marjo yang lagi mengetik di TKP.

Nah permasalahan selanjutnya adalah saudara yang kelangan Hp ini terlanjur ngundang teman temannya sak kampung, curhat.. dan kemudian mau nglurug Marjo, setelah ternyata hape nya di ketemukan di slempitan printer. Dan sebelum rencana itu kelaksanan, Bento minta pendapat ku piye penak e.. pasalnya yang ngajak mereka main disitu adalah Bento, sedangkan Bento sendiri adalah teman saya dan Marjo yang sering nongkrong bareng.

Pada awalnya saudara yang kelangan Hp itu main di rental sekaligus kontrakan kami, tiduran di situ, kemudian malamnya keluar, Hpnya ketinggalan, setelah diparani lagi ternyata tidak ada di situ, dan Marjo yang ditanyai methentheng bilang tidak tahu.

Dari situ saya berpikir apakah bener Marjo yang ngumpetin, tapi pasal kedua mereka bilang bahwa profil hapenya sudah di ganti modus silent, jadi ketika di miskol tidak berbunyi...

Saya tahu betapa jengkel perasaan mereka kalo memang benar di kerjain oleh Marjo, itu kalo bukan si pemilik hp yang teledor juga. tapi kalo sampe ada pergelutan diantara mereka, kan terus puasanya pada batal (malam lho)... Selain itu wong markas kami itu ada di area sekitar markas batalyon Arhadudse-15 Semarang, kalo mereka gelut ntar dikira ada kerusuhan, malah disemprot pake gas air mata malah terjadi tangisan masal..
Saya tidak bisa membayangkan...

Akhirnya saya berusaha nglerem para darah muda yang mendidih kena ledakan kompor gas (Red. Generasi terbaru dari mercon sebagai penyemarak hari raya adalah kompor gas 12 kg), sedangkan Marjo masih asik donlot pilem naruto di warnet.
Dan akhirnya mereka mau mengerti.. gak jadi ngajak tawur, hufft...

Saya hanya mengambil hikmahnya dari peristiwa itu, kalo memang guyon ya jangan terlalu jika itu menyinggung perasaan orang lain dan membuat hati nggondok.. Karena itu bisa menimbulkan masalah yang tidak disangka-sangka. Setiap orang punya jiwa, dan perasaan, jadi alangkah baiknya menjaga perasaan orang lain. apalagi bulan ramadhan, Insya Allah menjadi amal yang baik daripada tidak menjaga perasaan orang lain, walaupun gak pernah ikut sholat taraweh.. #nyengiirrr

Semoga semuanya tidak menjadikan perubahan kultur dan birokrasi yang berujung merosotnya iman dan taqwa serta perekonomian negara Indonesia...
 Aminn....



Minggu, 22 Juli 2012

Sahabat yang melupakanku...

sahabat
“ Marhaban Ya Ramadhan…. 
N’ Happy B’day sob.. 
semoga tambah dewasa, 
dan banyak rejeki…
Tak tunggu traktirannya...
Tapi di transfer aja….hehehe “
Itulah sms pertama kali yang ku kirimkan buat sahabat yang sudah lama tidak kontak, mungkin 
sekitar 2 bulanan lah. Dia seorang cewek, dulu kita sering curhat-curhatan  soal pacar masing-masing..  kita jarang banget ketemu, soalnya lokasi yang berjauhan dan sama – sama bekerja. 
Kemaren adalah hari ulang tahunnya, dan aku mengingatnya… tak piker setelah lamma gak smsan aku sms duluan ngucapin selamat ulang tahun buat dia, berharap punya respon positif untuk 
aku dan persahabatan kami.
Tapi kaget bukan kepalang ketika dia balas smsku bahwa dia gak tahu siapa aku.. jelas jelas aku kami sering smsan, dan nomer hpku masih tetap.
Akhirnya aku balas saja dengan “ apalah arti sebuah nama”…
Kemudian dia balas lagi “ kalo gitu makasih”…
Lalu ku balas “ sama-sama”..
Agak nyesel juga udah sms ke orang yang gak ternyata sudah lupa dengan ku… huft…
Tidak hanya sampe disitu, malemnya cowoknya sms ke aku…. Wuihh….. dikiranya aku mau gangguin ceweknya kali.. hahaha.. romantic nya… padahal aku sendiri gak pernah ngurusin kalo ada cowok yang gangguin cewek ku lewat sms atau telpon….
Dan akhir kata… aku cuma menyimpulkan… mungkin hapenya kecemplung wc…. Atau nomernya ke hapus dikirain teroris…. Atau mungkin satu hal yang gak pernah terbayangkan sebelumnya….
Gara-gara minta traktiran N’ nyuruh transper kali… hahaha…… secara hari-hari ini banyak yang sambat soal keuangan.. kata mereka… “ambegan wae angel kok mas”…
“podho lek ngono cak…”
Yach.. semoga sahabat-sahabatku tidak melupakan aku… 
lumayan buat dipinjamin uang pas lagi bokek… hahaha….
 #Lempar kancut..

Apa yang ku Cari...





Terpekur ku duduk di sini.. lelah membuatku tahu betapa terjal jalan ini.. seperti kata orang – orang yang pernah melewatinya…. Akh.. akankah cukup sampai di sini perjalananku, bukankah puncak itu masih jauh.. tapi betapa lunglai hatiku untuk melewati rintangan – rintangan di depan itu….
Pohon-pohon pinus berserakan tegak terpaku, menatap betapa tak berdaya diriku, menandakan baru sedikit jalan yang kulewati. Terdiam.. terkadang menjadi tumpuan ku berpegangan… ikhlaskah ia, aku tak tahu, begitu angkuhnya terkadang manusia, tanpa menyadari bahwa ia telah mengorbankan setiap jengkal yang mereka sebut alam… padahal tak ada seorangpun yang bisa menaklukkannya…
Apa sebenarnya yang kucari disini, hanyakah sebuah sensasi, dan egoisme serta kesombongan yang ingin ku tunjukkan di depan mereka.. bukankah aku datang hanya untuk mengorbankan onggok demi onggok rumput yang ku pijak.. dan hanya untuk mengagumi sunrise.. yang sebenarnya itu hanyalah kesombongan belaka.. pernahkah terpikir olehku arti dari pengembaraan ini.. di setiap batang pohon yang ku rengkuh, setiap nafas yang telah terhempas dan setiap rumput yang terinjak, dan batu – batu yang terseret sehingga ia terhempas ke bawah..
Akh.. aku berbohong .. jika aku mengatakan bahwa aku datang untuk mengagumi keagungan Tuhan.. pasal apa yang menjadikan alasan aku mengatakan semua itu… padahal kadang tak ku jaga ciptaan-Nya.. ku geser kerikil – kerikil yang terserak di jalan yang kulewati.. ku babat rumput-rumput disekitarku berbaring… kubakar ranting-ranting kering yang indah.. meski aku mengatakan aku akan mematikan api saat ku meninggalkannya…
Maafkan aku alam… selama ini ternyata tak ku temukan apa maksud semua perjalanan itu, hanyakah untuk membuktikan bahwa aku pernah mendakimu dan mencapai puncakmu… Alasan yang sangat tak manusiawi jika harus mengorbankan engkau… mestinya aku mengerti apa arti semua perjalanan ini..
Apakah untuk menikmati sepimu dan kesejukanmu… atau untuk membuktikan padamu bahwa aku bisa menaklukkan kau.. padahal semua itu berkat kemurahanmu.. betapa sombongnya diriku, betapa aku tak tahu diri… aku mendakimu hanya untuk satu alasan konyol… untuk sebuah kesombongan…
Alam… biarkan aku menemukan alasan yang tepat untuk mengunjungi engkau lagi, bukan untuk kesombongan dan egoku… biarkan aku temukan diriku… mengerti apa-apa tentangmu…
Aku akan berusaha… bukan sekedar memperkosamu, tapi untuk membuat semuanya lebih baik,, bisakah aku… dengan apakah….??
Alam… jawablah….
Sumbing, 27 Mei 2012
Base Camp
Puncak
 
Puncak
Tanah Putih
Watu Kotak

Jumat, 20 Juli 2012

Seseorang di Salaran


Sisi Lain
Aku melihat dia pertama kali beberapa bulan lalu. Saat itu aku baru pulang dari Semarang. Desaku terletak agak jauh dari jalan raya, oleh karena itu terdapat sebuah pangkalan ojek di pertigaan jalan masuk desaku, sebuah pangkalan ojek yang sudah usang, tergerus oleh kesombongan zaman. Betapa tidak.. sekarang sudah tidak ada lagi pengguna jasa ojek, orang-orang sudah punya motor sendiri, meski dengan cara kreditpun.

Dia terpekur sendirian di pojokan pangkalan ojek itu, beralaskan gombal-gombal bekas, berpagarkan secarik terpal usang, beratapkan seng-seng bolong, sisa sisa pangkalan ojek yang tak terawat. Disitu pula biasanya aku menanti angkot sewaktu akan pergi.
Rambutnya gimbal, pakaiannya compang-camping, layak jika hatikku berbisik “ orang gila “ sesaat aku melihatnya.

Beberapa minggu berlalu, akupun pulang kembali. Aku melihat pemandangan yang sama di tempat itu, dia masih disitu. Tapi ada sesuatu yang berbeda.. pangkalan ojek itu kini terlihat bersih dan lebih “hidup” dari pada sebelum orang itu berada disitu..
Dirumah aku bertanya, siapa sebenarnya orang yang ada di pangkalan ojek itu. Berita yang beredar di masyarakat adalah bahwa sebenarnya orang itu adalah “orang pintar”, dan banyak orang-orang yang minta petuah pada saat malam, dan katanya ia tak pernah kekurangan makanan, bahkan rokok. Itu karena orang yang datang memberikan makanan plus rokok kepadanya.

Rasa penasaranku bertambah, dan malam itu ku putuskan untuk melakukan “survey”, dan benar saja, ada 2 sepeda motor parkir di ojekan tua itu, 4 orang tampak berkumpul mengelilingi sebuah lilin remang, di dalam pojok ojekan berpagar terpal. Seorang berambut gimbal itu tampak sedang menulis dalam selembar kertas, entah apa.. aku tak tahu..

Aku masih berfikir.. sebegitu bodohkah orang – orang di sekitar kita yang bahkan percaya kepada seorang gila.. pikirku. Namun langsung di bantah oleh pernyataan ibukku, bahwa katanya orang itu mengerti maksud seseorang ketika ia datang padanya, sebelum orang itu menyampaikan maksudnya. Ketika aku bertanya pada ibuku, pernahkah ia berkunjung ?, jawabannya adalah belum.

Hatiku semakin penasaran dengan gossip-gosip yang beredar di masyarakat bahwa katanya dia adalah seorang yang sedang melakukan “tapa ngrame” yaitu bertapa di tempat yang ramai, mungkin itu terjemahan yang aku perkirakan. Yang ada di benakku adalah pertanyaan-pertanyaan rancu, tentang seberapa hebatkah dia, seperti apakah keyakinan dia, hingga aku merasa ingin menemuinya.

Suatu hari aku berangkat ke semarang, waktu itu tidak ada yang mengantarku, hingga aku harus berjalan kaki, dan bisa ditebak, bahwa aku pasti akan berhenti di ojekan tua itu dan bertemu dengan “orang pintar” itu.

Benar saja.. aku sampai di ojekan, dengan berbahasa jawa aku mengucapkan permisi untuk duduk di bekas ojekan itu, di dekat orang itu. Dan dengan bahasa yang luwes pula dia menjawab “monggo”. Dia asik memainkan kartu-kartu remi, sambil sesekali mengucapkan angka – angkanya dengan suara yang agak keras.. Hatiku terus bergolak, aku ingin tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan, meski aku tak berani harus memulai pembicaraan dari mana, tapi aku yakin jika dia benar-benar bukan orang gila, pasti nyambung diajak bicara.

Di tengah kegundahanku, tiba-tiba ia bertanya, “ Badhe tindak pundi mas.?” . sungguh aku tak menyangka, aku tekejut bukan main, dan akhirnya ku jawab sembari menenangkan diri, bahwa aku mau pergi ke Semarang. Perlahan keberanianku muncul, akhirnya aku mulai bertanya.. sebenarnya dia berasal dari mana.

Dia terdiam sesaat.. menimbulkan kekawatiran di hatiku, meskipun akhirnya dia angkat bicara juga, bahkan dia rela bercerita lebih dari apa yang aku pertanyakan. Dia berasal dari Malang, sebuah kota yang sudah tidak asing lagi buatku, meski aku tak hapal betul kota Malang, tapi aku semakin tahu darimana asalnya ketika ia bilang berasal dari sebuah pemukiman di pinggiran Kali Brantas, sebelah jembatan arah menuju terminal Gadang. Daerah itu sering ku lalui ketika aku pergi ke Malang naik kereta api.
Kemudian lebih jauh aku bertanya, tentang maksudnya dia menjadi seperti ini, apa tujuannya…

Dan akhirnya semua pertanyaanku terjawab sudah, dia bercerita panjang lebar tentang kehidupan dan tentang hidup pada umumnya, tentang masa lalu kelamnya, hingga ia mengamputasi telapak kakinya di rel kereta di sisi stasiun Kota Baru. Cara bercerita yang lugas, dengan bahasa Jawa yang bagus menurutku.

Namun dibalik semua itu dia tak menyiratkan sebuah “kepintaran” yang seperti di ceritakan orang-orang, semua yang aku dengar terkesan bahwa itu adalah curhatnya… hemmh.. atau mungkin dia begitu pandai menyembunyikan sesuatu yang dipercaya oleh masyarakat di sekitar desaku, yang terkesan ia seperti seorang “dukun”.. entahlah. Yang pasti sugesti dan kultus yang sudah berkembang di masyarakat adalah seperti itu.

Tak penting bagiku sekarang perkara “orang pintar” menurut masyarakat, yang ku mengerti adalah dia bukanlah orang gila yang seperti yang aku perkirakan selama ini. Dan menurutku dia Cuma menjalani kehidupan ini, dengan caranya sendiri.. dengan prinsipnya sendiri, dan aku tak mau mencampurinya. Karena pada dasarnya setiap kehidupan adalah tanggung jawab pribadi dengan Yang Maha Kuasa..

Mungkin dia ingin mengenang kembali dan menjalankan kembali gaya hidup “nomaden” seperti yang terjadi pada zaman dahulu..

Itulah tentang seseorang gimbal di Salaran.. sebuah istilah untuk pangkalan ojek tua dan usang di kampung halamanku.

Selasa, 17 Juli 2012

Cinta ku di SMA


Saat itu aku masih ingat, pertama kali aku melihat dia..

“ Tom, aku gak bawa kamus, pinjem siapa ya... “
“ Tenang ...ntar tak anterin pinjem, sekalian kenalan... temanku cakep... hahaha” kata Tomi
“ Siapa ..?” tanyaku penasaran.
“ Anak X.6”..

bel tanda istirahat berbunyi, sehabis istirahat adalah pelajaran bahasa inggris...

“ Ayo Tom.. katanya mau nganterin pinjem kamus..”
“ Heem.. ayo..” kamipun berjalan menuju kelas X.6..

“ Kris...” Tomi memanggil...
“ Iya Tom... “ seorang gadis menjawab.. cantik...
“ Pinjam kamus..”
“ Oh.. Tapi langsung dikembalikan ya, soalnya jam ke 6 ntar aku bahasa inggris”.
“ Oke... eh.. kenalin.. nih temenku.. Wito..” kata Tomi
Akhirnya kami berjabat tangan, tak ada perasaan apa – apa waktu itu, bahkan aku sama sekali tak mengagumi dia, kupikir dia biasa saja.

…...............
Kenaikan kelas pun tiba, Aku masuk kelas XI IPA 1, begitupun kulihat daftar nama dibawah ku, tercantum..” Krisna Novita Pratiwi”.. Perasaanku masih biasa saja.

Hari pertama masuk

Aku agak terlambat datang ke sekolah, padahal hari ini adalah hari “rebutan bangku”, tapi ndilalah aku bangun kesiangan.
Sesampainya di sekolah aku langsung masuk kelas, rame sudah disitu ada yang guyon, ada beberapa yang kenalan, karena meskipun sudah satu tahun sekolah ditempat yang sama belum tentu semuanya kenal.
Aku bingung cari tempat duduk, akhirnya aku berjalan agak ke belakang,
Krisna duduk sendiri,.
“ Yang kosong mana ya..” tanyaku
“ Nih dibelakangku kosong, yang lain udah kepake semua, kamu sih terlambat..”
Lumayan pikirku, dapet bangku di belakang berati gak deket – deket dengan guru..
Tiba-tiba..
“ Eh tahu nggak, kenapa gak ada yang mau duduk disini ? “ tanya krisna tiba-tiba
“ Enggak...”
“ Karena disini tuh gak ada yang pinter, tuh semuanya yang pinter di pojok-pojok, makanya cowok -cowok mendekat tuh sama yang pinter.”
“ Owh..” Apa urusanku pikirku

Hari terus berganti, kami semakin kenal, bercanda, bahkan dia mulai sering curhat dengaku.. tentang dia ya ditembak cowok, tentang keluarganya... kita semakin dekat, dia selalu bilang bahwa aku adalah sahabatnya..
Semakin lama pun aku mulai merasakan rindu pada senyumnya, saat dirinya tidak masuk sekolah, saat dia ngambek, saat dia pergi dengan pacarnya..
Dan sayangnya kerinduan itu bukan kerinduan seseorang kepada sahabatnya. Aku menyadari perasaan itu, tapi di sisi lain tak ada keberanian ku untuk mengungkapkan semuanya.. dan kerinduan itu hilang ketika kami bercanda bersama, dengan banyolan – banyolan ku, hingga dia menyebutku orang yang gak pernah serius.

Suatu hari temaku bilang bahwa dia suka sama Krisna, aku cuma tersenyum dan mendukungnya, meski sebenarnya dihatiku agak bersyukur karena temanku masih suka, belum jadian.
Akhirnya temanku cowok itu nekat mengutarakan perasaannya, tapi alhamdulillah... dia ditolak, meski di depannya aku selalu memberikan motivasi buatnya dan seakan – akan mengungkapkan “turut berduka”.

Hubungan kami semakin dekat, aku dan krisna. Entah sudah berapa cowok yang nembak dia, tapi lagi – lagi dia tidak menerimanya. Dia masih teringat pacar pertamanya yang hanya berjalan beberapa bulan diawal awal kelas XI.

Kenaikan kelas pun tiba..

Alhamdulillah kami masih sekelas, selama itu aku selalu menjadi sahabatnya. Dan panggilan darinya buatku adalah “Bro” atau “Sob”.. selama itu pula aku memendam cinta yang tak terungkapkan. Ku tulis puisi – puisi indah, sengaja ku selipkan di buku nya yang ku pinjam, entah dia mengartikan seperti apa, sikapnya datar – datar saja seakan tak pernah terjadi apa – apa dihatiku.

Semakin lama semakin membeludak perasaan itu, dia begitu dekat denganku tapi tak pernah bisa ku rengkuh. Hampir 2 tahun ku pendam perasaan itu, hatiku masih saja berdesir memandang senyumannya, semakin lama dia semakin cantik.. akh..

Ujian nasional sudah dekat, aku berjanji dalam hatiku, aku harus bisa mengutarakan perasaanku. Dan akhirnya kupikir waktu yang tepat adalah sehabis kelulusan.
Ujian pun tiba, tapi aku masih belum konsen untuk melaksanakannya,karena hatiku semakin galau.

…..................
Hari ini adalah pengumuman kelulusan. Semuanya pasti deg – degan menunggu kabar tentang kelulusan. Aku sengaja datang agak pagi, bukan pengumuman kelulusan yang ku tunggu, tapi seorang Krisna.

Di depan pintu gerbang ku menunggu, di samping pos satpam. Teman – teman semuanya telah masuk. Aku tak khawatir perkara lulus atau tidak, karena aku sudah bertanya ke ibuku, bagaimana kalau tidak lulus, dan dia menjawab bahwa aku harus mengulangi lagi. ah.. jawaban itu membuatku lega.

Pengumuman kurang 1 jam, tapi apa yang ku tunggu belum juga kunjung datang. Padahal ini adalah momen yang sempurna untuk mengutarakan perasaanku, dan telah kupersiapkan kata – kata berhari – hari sebelumnya.

Aku kecewa, karena ia tak datang, aku lulus, semuanya lulus, semuanya gembira. Tapi aku tak menikmati sepenuhnya kebahagiaan itu.
Akhirnya coret-coret baju pun berlangsung, semuanya bertanda tangan.. Akh.. kenapa ia tak datang...
Saat itulah aku baru mengerti bahwa cinta dapat mengalahkan segalanya, bahkan rasa bahagia sekalipun.

…..........................
Beberapa hari kemudian

Hari ini kami disuruh masuk, untuk cap tiga jari, aku bersemangat, karena mungkin semuanya akan hadir.. tak terkecuali Krisna, akupun berangkat.
Suasana sudah ramai di sekolah, aku terus melangkah melewati koridor dan beberapa tangga menuju kelasku, agak semangat langkahku, berharap ia ada disana.

Teman – teman rame di depan kelas ku, tapi tak kulihat sosoknnya, akupun masuk setelah bertegur sapa dengan beberapa teman didepan.
Yess... hatiku memekik, saat kulihat ia di bangku belakang. Aku langsung menghampirinya..

“ Hei.. gimana kabarnya.. aku kangen sama kamu”.. Katanya
Degg.. jantungku seakan berhenti, pikiranku meluncur jauh, apakah ini pertanda baik untukku, bibirku terus membungkam..

tapi.. akh... aku menyesal,.. masih saja aku munafik didepannya,, aku tak sanggup mengisyaratkan cinta itu, bahkan aku hanya dapat menikmati senyum indahnya.. kembalilah hari itu aku tetap menjadi sahabatnya..
Setidaknya aku sudah melihat senyumnya, rinduku sedikit terobati..

Hari itu kami bercanda seperti biasanya, aku cuma bisa mengaguminya dari dalam hati..
dan akhirnya kami pulang.. berdua kami melangkah keluar, akh.. betapa indahnya saat – saat seperti ini, tapi bibir ini terus membisu, tak sanggup aku meski untuk mengatakan “i love you”

Kami bercanda di pinggir jalan, menanti bis yang akan membawa kami pulang. Sebenarnya bis jurusanku sudah lewat beberapa kali, tapi aku menunggunya untuk mendapatkan bis. Hingga semuanya sudah sepi.
Aku mengumpulkan keberanianku kembali untuk mengutarakan perasaanku, mumpung tidak ada orang lain pikirku. Dan akhirnya..

“ Kris.. aku mau ngomong”
“ Ngomong apa sob..”
“ Emh.. begini..”
“ Eh... sob ngomongnya besuk aja ya … itu bisnya udah datang..” katanya memotong pembicaraanku sambil tersenyum..
“ Emh.. Iya deh...

Anjriiiiit... sudah diujung lidah.. malah bis nya datang.. sial 12 pasal... huffft..

“ Ntar aku telfon ya..” kataku setengah teriak ketika dia memasuki pintu bis
“ Iyaaa... “ katanya sambil melambaikan tangannya..

Aku sampai dirumah, sudah sore sekali, hampir tidak dapat angkutan.. akhirnya aku tidur.. aku lupa mau telfon dia...

….............
Suatu hari di tahun 2008

Sudah beberapa bulan aku tidak bertemu dia, dengar – dengar dia melanjutkan kuliah di kebidanan, sedangkan aku, sudah jauh dari tempat kelahiranku.. kini aku berada di Malang, kota yang dingin sedingin kenanganku. Saat itu aku sedang merindukan dia, saat tiba tiba dia mengirim sms kepadaku. Akhirnya aku beli pulsa untuk menelfon dia.

“ Halo kris, gimana kabarnya..?”
“ Baik sob.. udah lama banget ya... kamu sekarang dimana ? aku kangen ma kamu” katanya dari seberang sana.
“ Aku baik, sekarang di Malang, gimana nih calon bidan..”
“ Ahh.. kamu masih suka bercanda ya..., aku di Kendal,,”
“ Kris aku boleh ngomong sesuatu ?” kataku memotong pembicaraannya.
“ Apa ?” katanya sambil setengah tertawa.
“ Tapi kamu jangan tertawa ya..”
“ iya,,” katanya masih dengan nada bercanda

Tak apa – apa, yang penting aku ada kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku .. pikirku
Dengan menghela nafas, ku mulai kata-kataku.

“ Kamu tahu Kris, sejak lama sebenarnya aku suka sama kamu.. bahkan sejak teman-teman yang lain belum mencintaimu..” kataku... diseberang sana diam..
“ Halo...” sapaku
“ Eh.. Iya sob”..
“ Sayang selama ini kamu selalu menganggap aku seorang sahabat, padahal dibalik semua itu ada perasaan yang ku pendam.. tapi aku selalu bahagia saat melihat kau tersenyum, meski kau tak pernah sadar bahwa senyummu selalu ku bawa ke dalam mimpi – mimpiku. Dan parahnya aku takut hubungan kita terputus saat kau tahu bahwa aku mencintaimu..”
Dia masih diam...
“ Sekarang, kita sudah tak bersama, entah kapan aku akan bertemu engkau, kini kita jauh, dan aku hanya ingin kau tahu apa yang sebenarnya telah lama ku rasakan. Namun aku juga berharap untuk mendengarkan apa yang kamu rasakan selama ini denganku..” kataku
Di seberang sana masih terdiam...
“ Gimana Kris..” tanyaku..
“ Emh... Kamu itu bercanda sob... “ katanya
“ Gak kris.. kali ini aku serius..” Kataku
“ Aku gak percaya..” Katanya..
“ Benar kris.. Demi Allah..” kataku meyakinkan..
“ Emhh.. maafkan aku sob... selama ini aku selalu mengganggap kamu sahabatku, kamulah yang selalu mengerti aku, kamu tempat curhatku.. dan itu sudah membuat aku bahagia.. dan mungkin selamanya kita akan tetap menjadi sahabat... sahabat itu tak pernah putus, beda dengan pacar..aku tak mau hubungan kita terputus” katanya setengah terbata..

Hmmphh... aku menarik nafas dalam dalam sejenak...
“ Baiklah kris... terima kasih...”
“ Kamu marah sob..”
“ Enggak...”
“ Maafkan aku ya sob..”
“ Gak apa – apa.. mestinya aku yang minta maaf..”
dan.. tuuuutt...
Ku matikan telefon.. perasaanku menyeruak, tak terasa air mataku menetes... akh.. meski sekuat apapun hati yang ku persiapkan untuk menerima jawaban seperti ini, tetap saja hatiku bergetar.. Cinta ini telah membuat semuanya menjadi sedemikian rumit...

Perlahan ku tenangkan hatiku, kucoba tersenyum meskipun masih hambar kurasa.. tak apa, aku ingin segera beranjak dari lubang kecil ini...

Malam hari perasaanku agak tenang.. akhirnya aku kirim sms padanya..

Sobat... 5fkan q
mngkn q tlah slh mngartkan smwny
tapi skrg q tw, tak harus mjd pcr utk mnkmati snymu
q mngerti bhw cnt tak hrs mmiliki, sprt org blg..
Sob.. ttplah mjd shbtku, & biarkn q ttp mnkmati snyumu
mski hny dlm mmpi, mski hny dlm angn..
5fkn q sobat, smg U bhgia.. ttplh mjd shbt q
mwkh U.. sob... 
 
kemudian dia membalas..

Iya sob... q mw... 5fkn q...



Untuk sahabatku Krisna Novita Pratiwi, maaf ku tautkan sosokmu di blog pribadiku... semoga engkau tetap mau menjadi sahabatku... aku merindukan saat saat SMA dulu Kris....

Kamis, 12 Juli 2012

Rosanada


Rosanada adalah sebuah grup orkes melayu yang terbentuk pada tahun 2009. Sebenarnya Rosanada sendiri merupakan singkatan dari kata yang lebih panjang daripada sekedar kata itu sendiri. Rosanada adalah kependekan dari kata “Rosok an Nada”, yang artinya adalah nada – nada yang dihasilkan dari barang – barang rosok an.,
Kenapa ?.....

Kronologi..
Bulan Juli 2008 saya berangkat ke Malang untuk bekerja sebagai tenaga rosok di lapak rosok an milik kakak saya yang bernama Jiono, alamatnya adalah di Pal Daplang, Ds. Tlogosari Kec. Tirtoyudho, Malang selatan (Arah ke Lumajang)

Karena hobi saya bermain gitar, maka setelah lama tidak punya gitar jadi saya membeli gitar 2nd seharga 60 ribu. Setiap malam di rumah kakaku selalu rame, banyak orang nongkrong, sampe suatu malam, kami nongkrong sambil bermain gitar, (ada 2 gitar, yaitu punyaku dan pinjam yang 1 nya)
pemegang gitarnya awalnya adalah saya dan kakak saya. Malam – malam selanjutnya semakin ramai, karena Dopit datang membawa keyboard, tak ayal galon bekaspun menjad ketipung yang ditabuh oleh Cak To, kemudian tutup – tutup botol menjadi icik – icik, yang dipegang oleh kang Paidi.

Hari – hari terus bergulir, hingga timbul ide ingin membentuk sebuah grup orkes, bermodalkan alat – alat seadanya (gitar akustik yang dikasih mic, keyboard Merk MK, dan icik -icik dari tutup fanta dan cocacola), kami berlatih. Dengan nada yang tidak standard kami memainkan musik.

Akhirnya kami dipinjami alat oleh bekas grup Rebana di kampung itu, dan Kang Paidi membeli sebuah Mixer dan power serta satu box salon, yang berisi 4 speaker (12”). Kami terus belajar, sampai mengundang seorang penyanyi bernama Susi, dan dibayari setiap kali latihan.

Pentas pertama pada tanggal 18 Agustus dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, sekaligus diresmikannya Nama Group Rosanada yang pada saat itu digawangi oleh : Melody : Ugik, Keyboard 1 : Dopit, keyboard 2 : Jiono, Ketipung : Gito, Icik – icik : Giren & Paidi, Bass: saya, Rytm: Susilo, Drum : Adik dari Susilo.

Peralatan kami menyewa dari Susilo yang mempunyai Studio Band. Pada malam itu Gito merasa belum mantap untuk tampil di panggung, akhirnya digantikan Wanto, seorang tukang ketipung yang sudah lama eksis di dunia per orkesan, yang akhirnya bergabung di group Rosanada, menggeser posisi Gito, yang kemudian bersama Girin memegang icik -icik.

Selepas pentas perdana kami yang amburadul, kami mendapat banyak celaan dan tertawaan dari para musisi dangdut yang notabene lebih senior. Itu lah yang menjadikan motivasi bagi group Rosanada.
Hari – hari selanjutnya kami sering tampil, walaupun tidak dibayar, bahkan kadang rugi bensin.. hehehe (yang penting hepi)..

Rosanada mengalami pergantian personil karena banyaknya permasalahan. Komposisi paling sempurna (saya rasakan) adalah ketika tampil dalam acara pernikahan putri dari Kang Paidi, juli 2010 (saat itu : Bass: saya, Melody : Mas Wit, Keyboard 1 : Jiono, Keyboard 2 : Dopit, Ketipung + Drum : Wanto, Suling : Mas Wie & Pak Riyanto, Symbal : Gito & Giren, EO : Mas Agus, Engkreng, Yanto Celeh, MC: Cak To & Ro'i,  Vokal : Maya, Wiwik, Rina, Riska, Anik, Dela, Susi, Eva,Cak Kardi, Cak To, Alex. Ketua : Kang Paidi) dan itu adalah akhir dari eksisnya saya di tubuh Rosanada (karena saya kemudian melanjutkan kulian di Semarang).

Selepas itu, nama Rosanada semakin melambung, menjadi Grup Dangdut paling eksis se Malang Selatan, mengalahkan banyak grup – grup lama. Tapi terlepas dari semuanya tetap ada permasalahan – permasalahan dalam tubuh grup Rosanada, seperti pepatah semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup.

Tahun ini adalah tahun ke 4 Rosanada, ia tak pernah hilang, walaupun ke solid annya semakin berkurang. Saya tetap bangga memiliki bahkan ikut membentuk Rosanada, meskipun nama saya tak tersebutkan, tapi saya yakin banyak teman – teman yang masih mengingat saya, meskipun eksistensi saya cuma 1 tahun.

Itulah sekelumit kisah tentang Rosanada, grup yang terbentuk dari kekurangan dan barang – barang bekas. Betapa solidnya saat itu masih teringat dalam bayang – bayang benak saya, meski tak pernah bayaran kami tetap eksist mempertahankan nama Rosanada, meski terbentur berbagai kepentingan dan berbagai keterbatasan.

Semoga Rosanada tetap mempertahankan eksistensinya, kembalikan solidaritas yang telah terbentuk dan kesampingkan ego dan kepentingan masing – masing pribadi.. dapatkah ???
basis rosanada
Rosanada
pacarku nehh.. hehe
jhon keyboard (masku)
malah guyon...
Ryanto
wit
Lesehan,,,




Selasa, 10 Juli 2012

Suara gending di gunung Slamet

diatas kawah

Impianku untuk mencapai puncak tertinggi Jawa Tengah telah terwujud, tanggal 7 dan 8 juli kemarin, pendakian bersama rekan – rekan pecinta alam dari Kaliwungu Kendal berlangsung lancar. Alhamdulillah... Saya dapat mencapai puncak Slamet, yang menurut saya treknya tidak lebih sulit daripada Gunung Sumbing, Gunung tertinggi kedua se Jateng itu.

Walaupun kaki masih terasa pegal – pegal tapi saya selak ora sabar pengen menulis pengalaman mendaki Gunung Slamet itu, meski saya tahu banyak dari para pembaca yang sudah lebih berpengalaman daripada saya yang notabene pendaki pemula. Apalagi Om Rawins yang mungkin sambil merem pun sudah hapal jalur pendakian Gunung Slamet ini.

Saya ber 5 berangkat dari Semarang habis magrib hari jumat tgl 6, kemudian berkumpul di base camp TEGAR di Kaliwungu sebelum melanjutkan perjalanan ke base camp pendakian Bambangan di Kabupaten Purbalingga menggunakan truk. Setelah berkenalan dengan beberapa rekan – rekan baru dari Kendal itu kami berangkat ke Purbalingga, pukul 19.30. Saya bersyukur karena naiknya truk, coba kalau naik bus, pasti saya mabok duluan.. biasanya seperti itu.

Meski begitu, ternyata ada yang lebih parah dari saya, yaitu Budi, rekan saya dari Argapala ini tetap saja mambuk meskipun naik truk, untung gak sampe muntah – muntah.. Akhirnya dia hanya terdiam membisu di dalam truk yang diisi sekitar 20 orang itu.
Pukul 11.00 kami sampai di base camp Bambangan Purbalingga, dan akhirnya menginap di base camp sebelum memulai pendakian esok harinya.

Udara dingin musim kemarau sangat terasa pagi itu, jam 05.00 ketika saya terbangun untuk sholat, dan parahnya di Bambangan ini air sangat sulit ditemukan pas musim kemarau, di masjid pun air wudhu mulai habis, untung saya masih keduman, meskipun sedikit dan dingin.
Saya mulai membayangkan bagaimana kondisi di atas gunung nanti, wong di kampung saja sudah sedemikian dingin, dan kondisi tubuh saya sedang kurang fit waktu itu, batuk – batuk ngikil. Sampai – sampai saya pesimis untuk melakukan pendakian pagi itu.

Pukul 08.00 kami sarapan bersama, se pil bodreg flu dan batuk terpaksa saya telan dengan harapan batuk saya sembuh, walaupun tidak demikian kenyataannya, justru setelah saya nguntal pil itu batuk saya malah berkurang, alhamdulilah.. 
Sekitar pukul 09.00 kami memulai pendakian. Berjalan sedikit di aspal dari base camp sampai gapura bertuliskan pendakian jalur bambangan atau semacam itulah (kebetulan saya lupa tepatnya). Kemudian menyusuri ladang penduduk...

Babag pertama pendakian itu membuat saya kelelahan, nafas sulit diatur, karena hidung saya pilek, ambegan pake mulut malah membuat napas ngos – ngosan.. akhirnya saya agak sedikit menjauh dari teman – teman yang berjalan didepan saya.. selain karena debu beterbangan, sebenarnya lebih karena saya tak bisa mengimbangi langkah mereka..

Sampai di hutan cemara saya sudah dapat mengatur napas, dan kini dapat menyalip teman – teman yang lain. Saya berjalan agak didepan, tak beberapa lama sampailah di pos pertama, kalo gak salah namanya pondok Gembirung. Ada rumah dari seng, bisa buat istirahat sementara sambil menunggu teman – teman dibelakang.

Setelah semuanya sampai dan beristirahat, kami melanjutkan perjalanan, melewati pos II, kemudian pos III, pos IV dan akhirnya sampai di pos V sekitar pukul 16.00. Nama pos disini unik -unik , ada Sangyang Rangkah, Sangyang Wendit, Sangyang Ketebunan dan apa lagi saya lupa.
Setelah semuanya datang, kami memutuskan untuk mendirikan kemah di pos ini. Namun sayang,, mata air kering di musim kemarau, padahal itulah yang pendaki harap – harapkan.

Hari itu pendakian ramai sekali, ada yang dari Purwokerto, Purbalingga, Pekalongan, Bekasi, dan banyak lagi, jadi Pos V terlihat seperti bumi perkemahan.
Malam harinya saya tidak bisa tidur, entah kenapa padahal biasanya saya paling semrangat kalau urusan tidur meniduri. Dingin yang ku bayangkan di bawah tadi tidak terbukti. Karena pos V tak sedingin yang ku bayangkan. Tapi tetep saja butuh api unggun untuk membuat badan hangat.

Pukul 21.00 saya masuk tenda, tiduran... pukul 22.30 keluar tenda.. gak bisa tidur... akhirnya cari kayu buat api unggun.. Meski agak merinding rasanya pas nyari kayu, tapi tetep saya positif tingking, berfikir bahwa semua yang disitu adalah makhluk Allah, selama kita beriman Allah akan melindungi kita.
Api unggun sudah menyala... saya hanya berdua dengan pendaki dari Purbalingga malam itu, meski tak berapa lama keluar pendaki – pendaki lain yang ingin ikut menikmati kehangatan sang api.

Sayup – sayup saya mendengar suara gamelan, agak jauh sepertinya, tapi jelas sekali ada irama orang nyinden juga. Kulihat waktu pukul 02.00, sedangkan teman – teman di perapian masih asik – asik senda gurau. Pikiran saya jadi kemana -mana.. sembari meyakinkan telinga saya bahwa saya “benar – benar” mendengar suara itu. Saya telusuri setiap arah dengan logika saya. Memastikan dimanakah sumber suara itu...

Dan akhinya antara berani dan takut, saya berkeliling pos V yang tak terlalu luas itu, tujuannya adalah mengetahui dari mana suara sinden dan gamelan itu,. Saya agak lega karena suara itu tiba – tiba tak terdengar lagi,. Kembalilah saya ke samping api unggun, dimana sekitar 4 pendaki disitu. Saya duduk di rerumputan di pinggir api unggun, sesaat kemudian s
sayup – sayup suara sinden dan gamelan terdengar kembali..

Jadi merinding semua bulu kuduk saya. Saya putuskan kemudian ingin kembali ke Tenda, walaupun kemudian teman – teman saya bangun semua untuk melanjutkan pendakian menuju puncak. Saya tak jadi masuk ke tenda, takut sendirian.. hii..

Pukul 03.00 kami bersiap untuk melanjutkan pendakian.. agak lupa saya dengan suara – suara tadi, karena memang sudah tak terdengar lagi. Setelah bersiap dan berkemas kami melanjutkan pendakian. Tas Carrier kami tinggal, karena ada yang jaga.

Melewati beberapa pos, kemudian sampai di pelawangan... batas vegetasi dan bebatuan, matahari sunrise hampir terlihat, Sindoro Sumbing terlihat cantik sekali menyembul diantara awan – awan putih berbatas dengan langit keemasan.
Kami lanjutkan perjalanan, mendaki bebatuan, mirip di merapi..

Sebelum sampai puncak sunrise sudah nampak, kepala agak puyeng, telinga rasanya mau pecah, nafas tak beraturan, lidah rasanya kelu. Saya beristirahat sejenak, sembari menunggu cuaca agak hangat, sambil mengumpulkan kesadaran lagi.. teman – teman masih jauh dibawah saya, sedangkan di atas sudah ada 1 orang rekan.

Setelah cukup istirahat dan agak hangat, pusing juga sudah berkurang saya melanjutkan perjalanan.. Pukul 06.00 sampailah saya di puncak. Alhamdullilah... Pemandangan padang kerikil, batu dan pasir mengelilingi sebuah lobangan kawah ditengan puncak gunung ini. Luar biasa... puncak tertinggi Jawa Tengah berhasil saya naiki.
Setelah puas menikmati semuanya kamipun turun kembali, tujuannya adalah Pos V dimana kami camp tadi. Sekitar 1 jam saya turun sampai Pos V, agak berlari sih, tapi gak papa... Saya pengen cepet – cepet sampai dan tidur sebelum teman – teman datang.
Ketika sampai disitu sempat terbayang lagi suara – suara semalam, tapi segera ku tepis... positip tingking wae lah...

10.30 kami turun.. saya berjalan paling depan waktu itu karena ada urusan “ngempet”... tujuan saya selanjutnya adalah WC di base camp... Setengah berlari kami menuruni gunung Slamet, bersama saya seorang pendaki dari Kendal berjalan cepat.. seperti gak punya udel...

Akhirnya pukul 12.15 kami sampai di base camp, dan alhamdulillah air sudah habis semua, bahkan untuk cuci muka sudah tidak ada.. terpaksa ngempet... kemudian kami mencari mata air di kampung sebelah yang jaraknya sekitar 2 KM... waduw... kaki rasanya nyut – nyut..

Pas sampai harus antre karena ada ibu – ibu lagi mandi. Meskipun akhirnya saya mandi juga (tapi gak mandi bareng - bareng lho)...

Sampai di base camp lagi beberapa tema kami sudah ada yang sampai. Kemudian makan – makan sambi menanti teman – teman yang lain....
Pukul 15.00 semuanya sampai, kemudian mereka makan dan bersiap – siap pulang ke rumah...

Pas mau pulang tak sengaja saya mendengar perbincangan dari tim pendaki lain yang baru sampai..
Jam piro mas”...
Embuh... hape ku mati... gara – gara mau bengi nyetel Gending Jowo lali ora tak pateni nganti isuk... asem og...”..

Akhirnya terjawab sudah teka – teki suara gending itu...
Owalah....Tuwas pikirane takan ngendi - ngendi ... dasar parno...... # pikirku dewe...
Puncak

Rabu, 04 Juli 2012

Matarmaja V


Ilustrasi
Aku bangun jam 7 pagi, udara dingin Malang masih terasa menusuk tubuhku, tapi segera kutepis perasaan itu mengingat aku bukan dirumah sendiri, aku bergegas ke belakang, cuci muka kamudian berganti pakaian. Pakaian – pakaian itu diberikan masku untuk aku bekerja.
Ini adalah hari ketiga saat aku bekerja, seperti biasanya hari – hari lalu, pekerjaanku masihlah sama. Menyortir tutup botol kratingdaeng dan gelang – gelang tutupnya. Entah apa maksudnya aku belum paham waktu itu, hanya kata masku tutup kratingdaeng adalah aluminium, dan sayang kalau dijual bersama botol kratingdaeng yang 1 kilo harganya cuma 100 rupiah. Selama seminggu kerjaanku adalah menyortir tutup botol kratingdaeng, hingga suatu hari aku naik pangkat, yaitu menyortir plastic (atom) sesuai dengan jenis – jenisnya. Agak susah memang untuk membedakan jenis yang satu dengan yang lainnya. Butuh waktu labih dari 2 minggu sampai aku mahir melakukannya.

Itulah pekerjaan pertamaku setelah aku lulus dari SMA, menata, ngepak, menyortir rongsok, ada kertas – kertas, plastic, besi, sandal atau sepatu bekas, bahkan karung – karung bekas. 3 bulan sekali aku pulang ke Jawa Tengah, kampung halamanku dimana Ibu Bapakku tinggal serta sahabat – sahabat berada. 3 bulan adalah waktu yang sangat lama saat itu kurasakan. Dengan gaji 15 ribu perhari (bersih) aku dapat mengumpulkan uang. Hingga suatu hari aku dapat membelikan kambing bapakku, meskipun kemudian harus dijual lagi.

……………
Minggu, Agustus 2008
Hari ini tidak ada yang setor ke lapak kami, entah kemana semua bakul – bakul yang biasanya setor. Tidak banyak bakul kami, Cuma 4 orang, itupun kalau berangkat semua. Sudah dua hari ini tidak ada yang setor, biasanya ada masalah dengan bosnya (kakakku).
Pengepakan sudah selesai semua, karena barang – barang cuma sedikit. Akhirnya kami putuskan (aku dan kakaku) untuk pergi “nyari”.
Sebuah sepeda motor Yamaha 70 kutumpangi obrok (keranjang) sedangkan kakakku memakai RC sewaan. Berangkatlah kami, meskipun aku tak tahu tujuannya, yang penting ngikut saja. Sampai di depan pasar kami terus mlipir menuju sebuah tempat yang tak lain dan tak bukan adalah tempat sampah pasar.

Aku agak kaget, pertama kali ini pikirku. Meski begitu aku kesampingkan rasa Maluku, mengenakan kaos lengan panjang bertuliskan “ Paskibraka Kec. Subah tahun 2006” dan celana abu – abu yang sudah sobek dengkulnya serta sepatu yang juga “nemu” di rongsokan, aku terjun ke tempat bau nan kotor itu.

Plastic – plastic putih itu kumasukkan ke dalam karung, dari ujung ke ujung ku sisir seakan tiada yang tersisa, tak jarang “software” bekas wanita ku temukan, dan tak jarang pula aku “kepleset” pampers… hehehe… mengerikan..
Setelah semua karung penuh (kalau gak salah sekitar 8 karung 1 orangnya) kami pulang. Semua itu kami bawa dalam keranjang (di cantel – cantelno) sampai dari belakang terlihat seperti sepeda kelebihan muatan. Kalau sudah seperti ini hilang lah semua rasa malu. Tak peduli di pinggir jalan yang kotor jika capek kami beristirahat. Bakso rasanya enak sekali waktu itu, walaupun harganya cuma 3 ribu…

Sesampainya dirumah, plastik-plastik itu kami jemur biar hilang kotorannya. Aturannya adalah dalam 1 karung beratnya tidak boleh lebih dari 6 kilo. Jika lebih pasti tidak diterima.

Jam 5 adalah waktu habis kerja, biasanya aku langsung mandi, kemudian duduk – duduk di ruang tamu sambil nonton tv, atau main sama angga yang masih kecil dan lucu – lucunya. Disini aku lebih sering merokok klepas – klepus…. Jadinya kelanjutan sampai sekarang.

Saat itulah aku mulai merasakan betapa menyenangkan menjadi seorang pemulung sekalipun, tak perlu risau pada aturan – aturan, bebas, karena seragamnya memang bebas.. tak perlu takut dilok no wong, yang penting jujur….

Selasa, 03 Juli 2012

Ke Malang lagi..


Perjalanan ke Malang sukses dilakukan dengan menumpang sebuah bis yang berjudul Handoyo, dengan tarip 85 rb (bukan dari agen asli, tapi dari agen yang diterminal – terminal, mestinya cuma 76 rb). Tapi tidak apa – apa , idep – idep nguripi agen terminal.

Berangkat dari terminal Banyumanik Semarang pukul 20.00. agak alergi sebenarnya naik bus AC, wong biasanya saya selalu mabok, muntah – muntah gak karuan. Pernah sekali naik Rosalia Indah (bukan nama orang) dari Weleri sampai Malang, makannya 1 kali, muntahnya 8 kali.. hadeww... capek rasanya muntah – muntah, sampek pahit mulutnya. Sebenarnya yang menjadikan saya risau adalah, kenapa orang segede saya masih mabok kalo naik bis... bis yang AC lagi... jadi ketahuan ndesonya, wong kalo naik yang gak AC malah sehat wal afiat kemringet...

Kalo saya disuruh milih, mendingan saya naik kereta api, biar gak dapet tempat duduk, asal gak mumet... Kalo naik bis perjalanan 10 jam serasa 1 bulan, pengin cepet – cepet sampai soalnya.
Alternatif lain biar tidak muntah sebenarnya ada, yaitu minum Antimo, semacam obat tidur, karena habis minum biasanya langgsung nggletak, gak sadar, meskipun dicungi uang 100 ribuan dia pasti gak nampani. Itulah kenapa saya gak suka minum antimo, selain karena jadi gak bisa liat lampu – lampu jalanan, juga pasti gak akan sadar kalau – kalau ada cewek cantik duduk di sebelah kita... # asal jangan yang pake putih – putih, rambutnya panjang dan bolong punggungnya... hiiii...

Akhirnya saya sampai di Malang, teriminal Arjosari, seperti yang ada lagunya... # soko terminal Arjosari ~arjosari~ , kowe pamit budhal nang Bali, embuh Denpasar embuh ngendi ~pasar sapi~ embuh kecantol cowok ostrali... Capek pasti yang bikin lagu ni, dari Arjosari, ke Denpasar Bali, terus ke pasar sapi yang ada di ostrali... owalah... muntah gak ya..

2 jam kemudian saya sampe di rumah Mase... rumah yang dipageri gedek, kemudian aku masuk, ternyata masku masih ngelas motong besi bekas suling daun nilam. Kemudian aku masuk ke dalam rumah beton yang megah, (gedek itu cuma pagernya luarnya, biar rosokan e gak ada yang ngutil) langsung ke wc..... Muntah – muntah lagi dengan sukses...

Akhirnya... lega juga telah sampai di tempat tujuan.. meski pada sorenya harus meriang batuk – batuk karena udaranya dingin sekali... wuih.. Malang memang dingin... sampai sampai aku teringat betapa dinginnya Malang 2 tahun yang lalu... Saat aku masih disini, mencari rosok an di tempat – tempat sampah, pake motor Yamaha 75... huft.... kenangaku yang indah...

Kemudian aku teringat sesuatu... seseorang yang juga kurindukan.. seorang cewek yang kini baru lulus SMA, yang menyemangati hidupku bahkan ketika aku menjadi pemulung... Dimanakah dia...

#ndek omahe mbah e ta... lha yo'opo rek.....