Laman

Selasa, 10 Juli 2012

Suara gending di gunung Slamet

diatas kawah

Impianku untuk mencapai puncak tertinggi Jawa Tengah telah terwujud, tanggal 7 dan 8 juli kemarin, pendakian bersama rekan – rekan pecinta alam dari Kaliwungu Kendal berlangsung lancar. Alhamdulillah... Saya dapat mencapai puncak Slamet, yang menurut saya treknya tidak lebih sulit daripada Gunung Sumbing, Gunung tertinggi kedua se Jateng itu.

Walaupun kaki masih terasa pegal – pegal tapi saya selak ora sabar pengen menulis pengalaman mendaki Gunung Slamet itu, meski saya tahu banyak dari para pembaca yang sudah lebih berpengalaman daripada saya yang notabene pendaki pemula. Apalagi Om Rawins yang mungkin sambil merem pun sudah hapal jalur pendakian Gunung Slamet ini.

Saya ber 5 berangkat dari Semarang habis magrib hari jumat tgl 6, kemudian berkumpul di base camp TEGAR di Kaliwungu sebelum melanjutkan perjalanan ke base camp pendakian Bambangan di Kabupaten Purbalingga menggunakan truk. Setelah berkenalan dengan beberapa rekan – rekan baru dari Kendal itu kami berangkat ke Purbalingga, pukul 19.30. Saya bersyukur karena naiknya truk, coba kalau naik bus, pasti saya mabok duluan.. biasanya seperti itu.

Meski begitu, ternyata ada yang lebih parah dari saya, yaitu Budi, rekan saya dari Argapala ini tetap saja mambuk meskipun naik truk, untung gak sampe muntah – muntah.. Akhirnya dia hanya terdiam membisu di dalam truk yang diisi sekitar 20 orang itu.
Pukul 11.00 kami sampai di base camp Bambangan Purbalingga, dan akhirnya menginap di base camp sebelum memulai pendakian esok harinya.

Udara dingin musim kemarau sangat terasa pagi itu, jam 05.00 ketika saya terbangun untuk sholat, dan parahnya di Bambangan ini air sangat sulit ditemukan pas musim kemarau, di masjid pun air wudhu mulai habis, untung saya masih keduman, meskipun sedikit dan dingin.
Saya mulai membayangkan bagaimana kondisi di atas gunung nanti, wong di kampung saja sudah sedemikian dingin, dan kondisi tubuh saya sedang kurang fit waktu itu, batuk – batuk ngikil. Sampai – sampai saya pesimis untuk melakukan pendakian pagi itu.

Pukul 08.00 kami sarapan bersama, se pil bodreg flu dan batuk terpaksa saya telan dengan harapan batuk saya sembuh, walaupun tidak demikian kenyataannya, justru setelah saya nguntal pil itu batuk saya malah berkurang, alhamdulilah.. 
Sekitar pukul 09.00 kami memulai pendakian. Berjalan sedikit di aspal dari base camp sampai gapura bertuliskan pendakian jalur bambangan atau semacam itulah (kebetulan saya lupa tepatnya). Kemudian menyusuri ladang penduduk...

Babag pertama pendakian itu membuat saya kelelahan, nafas sulit diatur, karena hidung saya pilek, ambegan pake mulut malah membuat napas ngos – ngosan.. akhirnya saya agak sedikit menjauh dari teman – teman yang berjalan didepan saya.. selain karena debu beterbangan, sebenarnya lebih karena saya tak bisa mengimbangi langkah mereka..

Sampai di hutan cemara saya sudah dapat mengatur napas, dan kini dapat menyalip teman – teman yang lain. Saya berjalan agak didepan, tak beberapa lama sampailah di pos pertama, kalo gak salah namanya pondok Gembirung. Ada rumah dari seng, bisa buat istirahat sementara sambil menunggu teman – teman dibelakang.

Setelah semuanya sampai dan beristirahat, kami melanjutkan perjalanan, melewati pos II, kemudian pos III, pos IV dan akhirnya sampai di pos V sekitar pukul 16.00. Nama pos disini unik -unik , ada Sangyang Rangkah, Sangyang Wendit, Sangyang Ketebunan dan apa lagi saya lupa.
Setelah semuanya datang, kami memutuskan untuk mendirikan kemah di pos ini. Namun sayang,, mata air kering di musim kemarau, padahal itulah yang pendaki harap – harapkan.

Hari itu pendakian ramai sekali, ada yang dari Purwokerto, Purbalingga, Pekalongan, Bekasi, dan banyak lagi, jadi Pos V terlihat seperti bumi perkemahan.
Malam harinya saya tidak bisa tidur, entah kenapa padahal biasanya saya paling semrangat kalau urusan tidur meniduri. Dingin yang ku bayangkan di bawah tadi tidak terbukti. Karena pos V tak sedingin yang ku bayangkan. Tapi tetep saja butuh api unggun untuk membuat badan hangat.

Pukul 21.00 saya masuk tenda, tiduran... pukul 22.30 keluar tenda.. gak bisa tidur... akhirnya cari kayu buat api unggun.. Meski agak merinding rasanya pas nyari kayu, tapi tetep saya positif tingking, berfikir bahwa semua yang disitu adalah makhluk Allah, selama kita beriman Allah akan melindungi kita.
Api unggun sudah menyala... saya hanya berdua dengan pendaki dari Purbalingga malam itu, meski tak berapa lama keluar pendaki – pendaki lain yang ingin ikut menikmati kehangatan sang api.

Sayup – sayup saya mendengar suara gamelan, agak jauh sepertinya, tapi jelas sekali ada irama orang nyinden juga. Kulihat waktu pukul 02.00, sedangkan teman – teman di perapian masih asik – asik senda gurau. Pikiran saya jadi kemana -mana.. sembari meyakinkan telinga saya bahwa saya “benar – benar” mendengar suara itu. Saya telusuri setiap arah dengan logika saya. Memastikan dimanakah sumber suara itu...

Dan akhinya antara berani dan takut, saya berkeliling pos V yang tak terlalu luas itu, tujuannya adalah mengetahui dari mana suara sinden dan gamelan itu,. Saya agak lega karena suara itu tiba – tiba tak terdengar lagi,. Kembalilah saya ke samping api unggun, dimana sekitar 4 pendaki disitu. Saya duduk di rerumputan di pinggir api unggun, sesaat kemudian s
sayup – sayup suara sinden dan gamelan terdengar kembali..

Jadi merinding semua bulu kuduk saya. Saya putuskan kemudian ingin kembali ke Tenda, walaupun kemudian teman – teman saya bangun semua untuk melanjutkan pendakian menuju puncak. Saya tak jadi masuk ke tenda, takut sendirian.. hii..

Pukul 03.00 kami bersiap untuk melanjutkan pendakian.. agak lupa saya dengan suara – suara tadi, karena memang sudah tak terdengar lagi. Setelah bersiap dan berkemas kami melanjutkan pendakian. Tas Carrier kami tinggal, karena ada yang jaga.

Melewati beberapa pos, kemudian sampai di pelawangan... batas vegetasi dan bebatuan, matahari sunrise hampir terlihat, Sindoro Sumbing terlihat cantik sekali menyembul diantara awan – awan putih berbatas dengan langit keemasan.
Kami lanjutkan perjalanan, mendaki bebatuan, mirip di merapi..

Sebelum sampai puncak sunrise sudah nampak, kepala agak puyeng, telinga rasanya mau pecah, nafas tak beraturan, lidah rasanya kelu. Saya beristirahat sejenak, sembari menunggu cuaca agak hangat, sambil mengumpulkan kesadaran lagi.. teman – teman masih jauh dibawah saya, sedangkan di atas sudah ada 1 orang rekan.

Setelah cukup istirahat dan agak hangat, pusing juga sudah berkurang saya melanjutkan perjalanan.. Pukul 06.00 sampailah saya di puncak. Alhamdullilah... Pemandangan padang kerikil, batu dan pasir mengelilingi sebuah lobangan kawah ditengan puncak gunung ini. Luar biasa... puncak tertinggi Jawa Tengah berhasil saya naiki.
Setelah puas menikmati semuanya kamipun turun kembali, tujuannya adalah Pos V dimana kami camp tadi. Sekitar 1 jam saya turun sampai Pos V, agak berlari sih, tapi gak papa... Saya pengen cepet – cepet sampai dan tidur sebelum teman – teman datang.
Ketika sampai disitu sempat terbayang lagi suara – suara semalam, tapi segera ku tepis... positip tingking wae lah...

10.30 kami turun.. saya berjalan paling depan waktu itu karena ada urusan “ngempet”... tujuan saya selanjutnya adalah WC di base camp... Setengah berlari kami menuruni gunung Slamet, bersama saya seorang pendaki dari Kendal berjalan cepat.. seperti gak punya udel...

Akhirnya pukul 12.15 kami sampai di base camp, dan alhamdulillah air sudah habis semua, bahkan untuk cuci muka sudah tidak ada.. terpaksa ngempet... kemudian kami mencari mata air di kampung sebelah yang jaraknya sekitar 2 KM... waduw... kaki rasanya nyut – nyut..

Pas sampai harus antre karena ada ibu – ibu lagi mandi. Meskipun akhirnya saya mandi juga (tapi gak mandi bareng - bareng lho)...

Sampai di base camp lagi beberapa tema kami sudah ada yang sampai. Kemudian makan – makan sambi menanti teman – teman yang lain....
Pukul 15.00 semuanya sampai, kemudian mereka makan dan bersiap – siap pulang ke rumah...

Pas mau pulang tak sengaja saya mendengar perbincangan dari tim pendaki lain yang baru sampai..
Jam piro mas”...
Embuh... hape ku mati... gara – gara mau bengi nyetel Gending Jowo lali ora tak pateni nganti isuk... asem og...”..

Akhirnya terjawab sudah teka – teki suara gending itu...
Owalah....Tuwas pikirane takan ngendi - ngendi ... dasar parno...... # pikirku dewe...
Puncak

6 komentar:

  1. hhhh suara gendhine teko hape to Kang. Tiwas mrinding, anggap saja mrindinge karena badane sampean nggreges.

    Kalo Kang Rawin naik gunung Slamet bisa cepet soalnya naik si embek hhh siap siap dikeplak sampe mumet.

    Ohya sampean Dampit opo semarang?, entar lebaran insya Alloh tak mampir kalo sampean Dampit,

    tambah dikit, ada sahabt blogger yg nulis khusus tentang PA, Belantara Indonesia, wong jogja. Sampun kenal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyo kang pakies... tak pikir - pikir yo sangkin awaku greges...haha..

      kalo om rawins naik mbek, jadinya rebutan ma citra dong...???

      saya aslinya Batang, Jateng. tapi ndek malang suwe kang.. tepatnya di Pal daplang tirtoyudho.. sampean nek nang lumajang mesti lewat ngarep omah.. omahku sakdurunge koramil tirtoyudho kiri jalan (kalo arah ke timur) nggon lapak rosok an sing ngarepe ono warung bakul gedang 2..

      sopo iku kang pakies.. durung kenal...

      Hapus
  2. gunung slamet, 10-10-90...
    cinta pertamaku pergi untuk selamanya
    di samarantu
    di pangkuanku

    hipotermia...

    kalo dengar suara gamelan atau ribut seperti pasar
    cobalah untuk telanjang bulat dan lihat apa yang kemudian tampak...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya udah baca blog njenengan yang menceritakan sisi - sisi kehidupan yang njenengan alami. bahkan karena itu saya pengen naik gunung slamet...

      waduw.... apa ya yang tampak #tidak bisa membayangkan...

      Hapus
    2. medannya termasuk enak lah, kecuali plawangan ke atas
      perasaan lebih berat sumbing atau ciremai..

      Hapus
    3. belom pernah ke ciremai... kalo sama sumbing rasanya emang berat sumbing, cz gunung kembar... hehehe... piss..

      Hapus

Sebenarnya blog ini berisi catatan bebas, yang tak berarti apa - apa, jadi jangan terlalu diambil hati. Jika ingin berkomentar mohon berkomentar secara bijak. Suwun..