Laman

Jumat, 31 Agustus 2012

Nomaden...

Rencana hijrahku kembali ke Malang telah di ACC oleh mas bosku. Alasanku adalah urusan yang lebih penting dari sekedar jalan-jalan, sehingga tidak bisa dipastikan kapan aku pulang kembali ke semarang..
Begitulah kebiasaan diriku, hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti jaman purba dulu kupikir. Mungkin ini adalah akhir dari satu babak ceritaku di Semarang, dan entah esok atau lusa akan berada di mana lagi.

Yang pasti, hidup dari satu tempat ke tempat lain meninggalkan banyak kenangan yang indah diceritakan. Selalu ada kesan yang berbeda dari kehidupan ini, meski kita akan menyadari keindahannya justru saat kita sudah meninggalkan satu sesion kehidupan ke sesion berikutnya.

Sebenarnya tak ada yang pernah ku rencanakan untuk kembali ke Malang, namun ketika Tuhan sudah memutuskan, itulah yang akan terjadi. Sesederhana itulah sebenarnya penggaweyan manusia, hanya melangkah untuk apa yang ada didepan kita, setep bai setep...

Dan selama berada di Semarang, banyak kenangan yang tak terlupakan bersama sahabat-sahabat, dari bangun kesiangan sampai tidur bareng gak pake celana, dari makan Pried Chicken 1 untuk semua, sampe nasi rames utangan.. dan selalu saya yakin bahwa kesan saya telah merepotkan sahabat-sahabat disini lebih banyak daripada tidaknya, karena memang kenyataannya seperti itu.

Mungkin inilah sekelumit ucapan maaf yang tak pernah saya sanggup ungkapkan kepada teman-teman yang selalu bersedia menolong saya, dari pinjem kancut sampai ngutang uang, atau diam-diam pinjem sepatu buat jalan-jalan ke mall, sering juga pinjem motor sampe bensinnya habis.

Buat Letjend Suprapto yang sering balik arah pas mau berangkat kerja gara-gara tak sms minta tebengan, juga Lek Budi yang selalu rela minjemin motornya walau gak pernah mau nyuci, Mas Bos Santya yang punya Santya Corp, yang hanya tersenyum pas lihat saya lebih banyak mainnya ketimbang kerjanya. Handoko yang selalu minjemin uang kalo pas kepepet setiap minggu, serta teman-teman lain yang sudah saya repotkan, saya mengucapkan terimakasih dan mohon maaf sebesar-besarnya (masih lebaran gak ya...)

Semoga kita menemukan apa yang kita cari, meskipun berbeda prinsip asal rukun, itu cukup untuk menggalang persatuan di negara indonesia raya ini..
Sampai jumpa di lain kesempatan... terimakasih atas semuanya....

Senin, 27 Agustus 2012

Semar Ingin Merdeka...

SEBUAH mobil open kap berhenti mendadak di rumah Mbah Togog, seorang tokoh spiritual. Rem mobil itu menjerit-jerit serasa mengiris aspal. Beberapa murid si Mbah tampak memasukkan sebentuk tubuh gemuk ke ruang pasien. Di ruang tunggu, tampak wajah cemas Gareng dan Petruk. Mereka bergantian menengok ke dalam.

Tampak minyak upet wangi dibakar. Asapnya didekatkan di hidung Semar yang nggletak di ruang pasien. Tanpa sebab, Semar pingsan dan membuat geger orang yang sedang tirakatan hari kemerdekaan.

”Mbah, Mbah. Why my father kok sakit?” tanya Gareng saat Mbah Togog melintas. Punakawan itu hanya angkat bahu sambil memeluk Gareng, ponakannya itu. Hati Togog dipenuhi tatap mata kosong anak-anak semar. Mereka seperti anak burung yang kehilangan induknya.

”Gini, Reng. Moga wirid Kidung Asih bentar lagi bisa nglacak apa yang sebenarnya terjadi pada bapake koen,” ujar Togog, punakawan berbibir ala Mick Jagger tersebut.

Satu jam berlalu, ritual yang diadakan mulai menampakkan hasil. Urat kuncung Semar bergetar. Mbah Togog melohat sesuatu yang kecil bergerak dari kuncung semar yang pelan-pelan rontok. Lalu, munculah Bambang Ismaya, sejatine Semar.

Togog lalu beraksi. Dia keluarkan sabuk Raga Sukmat yang terbalut energi. Dia lantas mengubah diri menjadi Bambang Tejamantri untuk segera menemui Ismaya.

”Ismaya, kenapa kamu hancurkan kuncungmu?” kata Tejamantri. Tapi, Ismaya hanya memberi jawaban tatap mata sinis. ”Aku sudah jenuh dianggap jadi sang pamomong,” ujar Ismaya. Dia jelaskan bahwa dia mau bebas merdeka.

Mendengar itu, Tejamantri segera berubah kembali menjadi Togog. Dia lalu berteriak. ”Reng, Gareng, gawat!! Cepat cari manusia paling sedih hidupnya. Biar Ismaya tersentuh hatinya,” seru Togog. Gareng lalu melacak kisah sedih paling mengharu biru di seluruh pelosok negeri.

Syahdan, seorang perempuan tua bernama Budhe Kunthi hidup telantar di panti jompo. Dulu dia didik anak-anaknya jadi orang hebat. Namun, wanita tua itu justru dimasukkan di panti jompo saat renta. Gareng segera membopong Budhe Kunthi ke hadapan Ismaya.

Tatapan Ismaya masih dingin. Dia coba untuk tersenyum. Namun, itu justru menunjukkan niatnya yang kian mantap untuk pensiun sebagai pamomong. ”Reng, aku juga paling kalian lempar ke panti jompo kalau sudah tidak punya pengaruh apa-apa lagi,” bisik Ismaya.

Gareng langsung nangis nggerung-nggerung. Semar tak peduli. Seragam semar dia berikan sebagai kenangan buat Gareng. Ismaya pun lenggang kangkung melanglang jagad, meninggalkan dunia wayang yang penuh kemunafikan.

Mbah Togog tak tinggal diam. Ia perintahkan Petruk untuk menghadang Semar. Sebagai keturunan raja jin, Petruk banyak akal semlikut. Si hidung panjang itu lantas berpikir, apa gerangan yang bisa membuat Semar kacau hatinya.

Yes, dia nemu akal. Dia berubah jadi Rahwana. Petruk pun menuju tempat persewaan kostum wayang wong. Dia pasang kumis ketel palsu, sarung kumel dia ganti blue jeans memamerkan kaki panjang, dia pasang wig rewog-rewog, dan membeli boneka yang diambil kepalanya agar seperti sepuluh kepala Rahwana. Petruk pun sampai takut sendiri saat berkaca.
Semar agak minder bertemu Rahwana di sebuah pertunjukan wayang kulit. Sebab, si Dasamuka itu adalah orang paling jahat di dunia. Semar pun sembunyi di sela-sela tukang tabuh gamelan. Namun, Rahwana melihatnya dan tertawa terbahak. ”Semar, aku mau jual seluruh negara wayang ke negeri asing. Dan aku akan umumkan bahwa setap wayang wajib korupsi,” kata Rahwana gadungan itu.

Rahwana terus mengejek. Dia sesumbar, mau bunuh seluruh wayang yang berkarakter baik. Semar hanya menanggapi dingin. Dia persilakan Rahwana melakukan seluruh kehendaknya. ”Sorry, Rah. Aku bukan pamomong lagi,” jawab Semar cuek. Rahwana agak putus asa. Mendadak, dia ambil wayang Kumbakarna yang dibungkus kain putih agak kemerahan. ”Nah, ini dia adikku Kumbakarna yang dianggap satria dengan nasionalisme tinggi. Akan aku bakar dia,” seru Rahwana. Kain merah-putih dia mainkan sesukanya. Kain itu dimasukkan minyak tanah hendak dibakar.

Tubuh Semar mendadak demam. Diawali rintihan, perut Semar lama kelamaan membesar naik turun tak teratur. Tiba-tiba, mak wuett, tubuh Semar berubah menjadi raksasa dan berteriak geram. ”Jangan kau nodai kain merah putih pelindung si Kumbokarno,” katanya dengan suara menggelegar.

Tangan besar Semar mencoba meraih Rahwana gadungan. Wuuts, tangannya hanya menangkap angin. Petruk yang sedang menyamar itu miris. Dia berusaha lari, nubruk bakul rokok. Pertunjukan wayang sontak bubar. Penonton berlarian menyelamatkan diri, mengira ada kingkong mengamuk.
Wuus, dari belakang tangan semar menjambak wig Rahwana yang langsung terlepas. Sebentuk kuncir muncul. ”Mo, Romo, Daddy, ini aku Petruk, anakmu!” seru Petruk.

Namun, Semar raksasa sudah kalap. Dia tendang Petruk untuk bal-balan. Petruk rasanya mau pingsan. Saat Semar mau puntir kepala Petruk, di ujung jalan serombongan anak-anak TK yang sedang karnawal lewat. Berbaris rapi dan memakai drumband, mereka bernyanyi, Sekali meldeka tetap meldeka.
Suara-suara cedal itu terasa sedang bersenda-gurau menikmati 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia. Semar luluh. Kemarahannya lenyap. Dia tinggalkan Petruk dan berbaris bersama anak-anak kecil itu.

Meski ikut bernyanyi, hati Semar menangis. Kelak, anak ini hidup di zaman seperti apa? Di zamanku saja, manusia sudah mengerikan kelakuannya. Semar ikut nabuh drumband. Dia berjanji mau jadi pamomong, tapi untuk generasi yang masih bersih. Ya, aku mau merdeka momong bibit yang baru tumbuh daripada pohon yang kukuh tapi baunya busuk. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
Sumber : http://wayang.wordpress.com

Kamis, 16 Agustus 2012

Met Lebaran..


Entah apa arti lebaran, atau idul fitri., seakan kian memudar dari rasa "sesuatu" yang ku rasakan saat aku masih bocah... remaja. Kini lebaran semakin kehilangan kesemarakan...

Entahlah.. dibalik semua itu, tetap ada rasa rindu untuk bersalaman.. mengucapkan maaf secara tulus, dan makan ketupat dan opor bersama..
Intinya kehidupan memang harus berbatas.. untuk memulai yang baru lagi.. meski kadang tak berubah, atau bahkan lebih buruk dari episode kemarin.
dan bukan pada acara ulang tahun, bukan hari kemerdekaan, bahkan pada tanggal 1 Januari.. melainkan kesan itu sangat terasa pada saat idul fitri..

Semoga ini menjadi batasan antara kehidupan kemarin yang biasa menjadi kehidupan di depan kita yang luar biasa...

Saya selaku admin blog Sego Megono mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri.. mohon maaf lahir batin...
jika ada kesalahan dalam menulis maupun berkomentar, mohon dimaafkan...

besok saya mau mudik.. sekalian doakan ya.... hehehe..

Met lebaran.....

Rabu, 15 Agustus 2012

Maaf Lahir Batin

SINAR matahari seketika redup. Angin enggan berembus dan burung-burung mengatupkan paruhnya. Pandawa kalah dadu. ”Pegi..sono Lu! Pegi kagak?? Sana jauh-jauh, buduuuk,” ejek Duryudana sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah pintu.

Yudhistira tertunduk lesu, Arjuna memerah wajahnya. Sementara Werkudara nggerung gemetar mengepalkan tangannya. Lunglai, Pandawa keluar gedung Pasamuan Agung. Ribuan tatapan mata seolah menghakimi kekalahan mereka bermain politik. Ditemani cecerucet Srigunting, Pandawa akhirnya mendirikan gubuk sederhana di tepi telaga hutan Dandaka. Mereka hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya.
”Bos.. kemenangan kita harus dirayain, nich Boss. Gue have a good idea. Priben?” bisik Sengkuni. Mereka segera masuk ruang pribadi Duryudana, bicara empat mata.
Keesokan harinya, program PNPM (Perkemahanku Nyaman Perkemahanku Meriah) diluncurkan. Dana sak miliar digelontorkan, seratus Kurawa dikerahkan. Cause sarat visi dan misi, lokasi yang dipilih seratus meter dari gubuk derita Pendawa. Di situ, kemah moblong-moblong full AC didirikan. It’s Show Time!! Kambing guling dipesan langsung dari Australia. Bacem paha unta khusus didatangkan dari Iraq.
”Kakang, perutku, lapar. Lapar, Kakang,” desis Werkudara yang ngiler membaui wangi masakan yang terbawa angin dari kemah Kurawa. Puntadewa secara arif menenangkan Werkudara dan menyodorkan rebusan ketela pohon.
Tet jam tujuh tepat, acara dimulai. Duryudana rakus menghabiskan sepotong paha unta. Daging gede itu sekejap ludes. Sisa potongannya dilempar jauh ke arah jam sembilan. Praak, hantaman kaki Werkudara mapak arah jatuhnya tulang. Pletak, wuaduh, sisa tulang paha kambing betotan Dursasana yang dilempar tepat mengenai jidat Nakula. Cekatan, dengan daun jati Arjuna membersihkan bercak minyak di beberapa bagian tubuh Nakula.
Begitulah tata cara makan ala Kurawa malam itu. So, dalam hitungan detik, gubuk Pandawa menjadi hujan tulang. Sraaak, sebilah panah Hardadedali dilepas Arjuna dalam emosi yang memuncak. Panah itu telak menancap di sisa kepala kambing. Kurawa langsung berlompatan siaga. Duryudana melihat ada secuil kertas di ujung panah. Kami tak akan makan dari barang haram. Kami hanya makan apa yang telah di sediakan alam. Bunyi SMS lewat anak panah itu. Tangan Duryudana terkepal. Dia geram pantaran godaan pertamanya gagal.
Party must go on! Di tenda kecil yang terlihat paling luks di antara yang lain, Sengkuni kembali rancang strategi. ”Bos, gak sah mbededeg gitulah. Rasane kita perlu hiburan, biar kendor nich urat,” bisik Sengkuni sambil memijit bagian pundak Duryudana dari belakang. Duryudana dingin tak berkomentar. Kegaduhan hatinya disalurkan lewat tangannya yang terus memindah saluran tivi. Berhenti karena tertarik acara obrolan santai bergaya ke Oprah Winfrey-Winfrey-an.
Akhirnya, tak seberapa lama, perkemahan itu penuh teriakan histeris dan tepuk tangan ala monyet. Saudara kembar mereka, Tukul Arwana, masuk dengan malu-malu. ”Puas..puas? Saya bangga berdiri di sini, paling ngganteng di antara kalian, katro semua!” ejek Tukul. Seratus Kurawa langsung keras terbahak-bahak terdengar sampai radius sak kilo meter. ”Saya juga paling genap otaknya di antara kalian. Daripada yang di sana kurang sak setrip,” tambah Tukul. Semakin malam, tawa mereka semakin keras tur sampai terkencing-kencing. Bukan hanya polusi suara juga polusi udara, bau jengkol lagi.
Dengus napas Werkudara lebih cepat dan terdengar berat. Arjuna berjalan bolak-balik tak jelas. Konsentrasi mereka terganggu kelakar tawa. Sadewa yang sedang research mengubah daun jati jadi rasa daging menghunus anak panah. Dengan berlari keluar gubuk, anak panah itu dia lepaskan. Tuing! Anak panah bersarang tepat dua mili di bawah bagian vital Dursasana yang menggigil dan berkeringat dingin ketakutan. Sekejap semuanya menahan napas. Duryudana sigap meloncat keatas, diraihnya secarik kertas di ujung panah. Tahukah kalian, hiburan kami hanya bermunajat kepada-Nya, bunyi tulisan dalam tinta emas. Duryudana emosinya sak gulu karena godaan kedua untuk Pandawa sia-sia.
”Ini tak bisa didiamkan. Persiapkan diri kalian semua. Kita sikat Pandawa dan tunggu komando!” teriak Duryudana. Para Kurawa bubar. Baju zirah segera mereka kenakan dan dikamuflasekan dengan men-cantel-kan dedaunan. Senjata tajam mereka hunus. Untuk memata-matai pergerakan musuh, radio komunikasi tergendong di punggung. Durmogati diturunkan awal membuka jalan.
Di pihak lain, Pandawa masih asyik menikmati buah pisang yang mereka petik di pinggiran hutan. Pelan, Kurawa merayap mendekati sasaran. ”Serang!” teriak Duryudana. Njenggirat, Pandawa pasang kuda-kuda. Dari sisi kanan, dengan tombak tajam, Durmogati merangsek. Gedabrug, Durmogati jatuh gulung-gulung menginjak kulit pisang. Dari radio komunikasinya terdengar suara takbir yang membahana.
Puntadewa ambil inisiatif salami Kurawa satu per satu diikuti Arjuna, Werkudara, Nakula, dan Sadewa. Mereka minta maaf lahir batin. ”Oalah,.. bagaimana menyerang lawan yang dingin dan memaafkan gini? Yo ayo mulih saja,” ujar Dursasana. Sembilan puluh sembilan Kurawa tak jadi menyerang dan pulang, kecuali Duryudana yang berkacak dengan congkaknya. Werkudara dekati Duryudana dan menegur dengan gaya santri. ”Jangan buat kekerasan di hari kemenangan. Hari raya, Bro,” ucap Werkudara. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono
Sumber : http://wayang.wordpress.com/

Senin, 13 Agustus 2012

Mumet...


mumet
Seketika mata terasa berkunang kunang..
Tubuh terasa malas dan lemas..
Air muka nampak memelas..

Pikiran berlarian kesana kemari.
Terkadang berbenturan antara satu yang keras dengan sesuatu yang keras, pecah,
Kadang sesuatu yang keras dengan sesuatu yang lebih lembut,, memantul kembali.
Kadang berbenturan sesuatu yang lembut dengan yang lembut.. menempel..

Puyeng menjalar jalar disetiap sudut otak..
Mata berputar.. seperti melihat bintang-bintang muram
Hati kaku...
Lidah kelu..
Terasa malas....

Hufft...
Sebenarnya aku hanya ingin sesuatu..

Aku Ingin LIBUUUUURRRRRRR.........

hemmmmhhhhh.......

Kamis, 09 Agustus 2012

Wisata Tinjomoyo

pintu masuk

Untuk mengelabuhi cacing-cacing yang bernyanyi sebelum buka puasa, biasanya sore hari saya melaksanakan jalan-jalan "ngabuburit" ke berbagai tempat, antara lain: kost an teman, warnet, indomaret, jembatan penyeberangan, dan tempat-tempat wisata. Nah khusus katergori tempat wisata, saya suka pergi ke Tinjomoyo yang statusnya adalah bekas kebun binatang dan sekarang menjadi hutan wisata.

Dahulu kala di Tinjomoyo ini telah berpenghuni banyak jenis binatang yang hidup dengan damai, dan menjadi salah satu tujuan wisata per-fauna-an di Semarang, dengan infrastruktur yang memenuhi syarat (pada waktu itu) sebagai kebun binatang. Pada suatu waktu yang naas (menurut temanku) terjadi banjir besar Kali Garang (sungai yang membatasi kebun binatang/pintu masuk kebun binatang), sehingga meruntuhkan konstruksi jembatan yang merupakan satu-satunya jalur penghubung pariwisata Tinjomoyo.

Karena bencana tersebut pada akhirnya menjadikan tempat wisata ini sepi, serta kondisi tanah yang labil (sering longsor) membuat hewan-hewan penghuni kebun binatang ini di pindahkan ke Taman Margasatwa Mangkang. Sekarang yang tersisa adalah hutan-hutan liar serta jalan-jalan beton yang sudah "tidak baik", dan sebuah jembatan besi sebagai penghubung antara desa Tinjomoyo dengan Semarang.

jembatan besi
Konon jembatan besi ini adalah pinjaman dari Kodam IV Diponegoro, sebagai jembatan darurat seusai runtuhnya jembatan yang lama. Namun akhirnya jembatan ini harus kembali ke pihak Kodam setelah selesai pembangunan jembatan yang sudah dimulai ini. karena menurut rencana, Hutan wisata ini akan dikembangkan lagi menjadi objek wisata yang lebih modern.

Sekarang hutan ini menjadi tempat camping, outbond, perang-perangan (entah namanya apa yang pake senapan berpeluru cat itu #ndeso), dan acara-acara outdoor yang lain, tapi ini yang paling sering dan paling ku suka, yaitu sebagai tempat pemotretan foto model, secara banyak gadis-gadis cantik yang berpose di pinggiran hutan, jembatan, bahkan sungai.... wuiihh pemandangan yang membuat lupa rasa lapar.. #dosa gak ya... hihihihi...

Bagi sahabat yang tak suka tempat wisata yang terlalu rame boleh datang kesini, pemandangan yang ada antara lain : hutan, jembatan besi, sungai, jalan-jalan beton yang hampir rusak, bekas kandang binatang, patung-patung binatang, bekas WC, dll..

Lokasinya dekat dengan Unika Soegijapranata Semarang (dari Jatingaleh Semarang masuk jalan Karang rejo (arah stadion jatidiri) terus masuk terowongan sampai Unika belok kiri, nah sampe tuh... bingung kan... hehehe...

Ntar tak anterin deh..... hmmm...
gerbang

pembangunan jembatan

Senin, 06 Agustus 2012

Dapat Award....

Setelah 3 hari vakum tidak menggerayangi dunia maya, akhirnya hasrat itu kesampaian juga, sebenarnya ada satu hal penting yang mau saya bicarakan di postingan kali ini, yaitu mengenai THR yang diberikan oleh sahabat ♥VPie◥♀◤MahaDhifa♥ yang menghuni ☆Dunia ♥ T-Wekz Lib'z☆  dan belum sempat saya postingkan meskipun sudah saya terima di wesel sejak 3 hari kemarin.

Keterlambatan ini sebenarnya tidak mengandung suatu maksud apapun, dan bukan pula karena jalanan macet berhubung arus mudik ataupun karena banjir di musim kemarau yang membuat lumpuhnya jalur lalu lintas, tapi lebih karena suasana yang belum memungkinkan akibat berita duka kemarin.

Alhamdulillah meskipun tanpa podium dan mic double seperti para yang digunakan pas pidato para pemimpin, saya tetap mengucapkan terimakasih kepada sahabat ♥VPie◥♀◤MahaDhifa♥  yang telah mempercayakan THR beruntun ini kepada saya.  Berikut gambaran Award yang saya terima, karena tulisannya berbahasa asing, maka sedikit banyak secara jujur saya tidak tahu artinya babar blas..



Untuk selanjutnya melaksanakan amanah dari sang pemberi, maka saya akan membagi-bagikan THR (bukan zakat fitrah jadi gak perlu rebutan, ntar malah harus mbayari posili segala ) yang sudah terbagi-bagi tapi semoga yang sedikit ini tetap menjadi berkah yang penting adil #pisss .. Berikut beberapa tersangka yang kejatuhan durian tertimpa tangga...

Ririe Khayan yang punya Kidung Kinanthi
a.i.r yang punya Santai Sejenak | Secangkir Teh dan Sekerat Roti
Om Rawins yang punya Rawins
Pakde Ies yang punya Djangan Pakies
Chika yang punya penanti hujan
mimi RaDiAl yang punya Serambi RaDiaL
Ocha Rhoshandha yang punya Cerita Ocha

Semoga diterima dengan lapang dada, dan tidak nggrundel karena bagaimanapun juga itu adalah karunia dari Yang Maha Kuasa.. 

Terus terang ini Award pertama, jadi saya bingung harus ngapain.. hehehe...

Jumat, 03 Agustus 2012

Telah Kembali...


Beberapa jam yang lalu Simbahku meninggal dunia. Kabar itu ku terima sesaat sebelum aku berangkat sholat jum'at. Jarak yang jauh menjadikan diriku tak sempat melihatnya untuk terakhir kali. Memang aku sudah dikabari 2 hari yang lalu bahwa simbah ku sakit. Mungkin karena sudah tua, pikirku. Sempat terbesit dalam pikiranku andaikan beliau meninggal, itulah kenapa aku tidak terlalu kaget oleh kabar meninggalnya simbahku.

Simbah ku ini adalah orang yang istimewa menurutku, sahabat semua tahu ? Simbahku lahir tahun 1918, saat Belanda masih menjajah negeri kita ini, bahkan beliau merasakan penjajahan Jepang waktu itu.
Dan luar biasanya, Simbah tidak pikun walaupun sudah tua, dia tetap suka bercerita tentang masa-masa dulu, bahkan Simbah menguasai bahasa Jepang dan sedikit Belanda... sayangnya Beliau tidak bisa menulis huruf latin, melainkan dengan huruf jawa Honocoroko.. Luar biasa..

Pekerjaan terakhir Simbah adalah sebagai penganyam bambu, ibaratnya beliau tukang servis cething (bakul) tampah (tempeh/tampir) sampai membuat gribig, bahkan membuat kuda lumping. Dan parahnya tidak satupun cucu-cucunya menuruni bakat beliau, atau mungkin lebih karena anak sekarang malas belajar, karena jaman sudah semakin instan.

Pernah suatu kali aku bertanya, kenapa simbah panjang umurnya, sedangkan orang-orang seangkatan beliau sudah meninggal. Dan jawaban yang ku dapat adalah, bahwa beliau pandai mengontrol emosi, tidak pernah marah, bahkan dendam, atau sekedar nyengiti (baca: membenci).. Dan sampai tua pun beliau masih suka bercanda bersamaku. Aku adalah cucu dari anak beliau yang pertama (ibuku), dan aku anak terakhir. Entah kenapa aku merasa akrab dengan beliau.

Aku mengharapkan beliau bersama kami untuk waktu yang lebih lama lagi, tapi akupun sadar bahwa setiap perkara sebenarnya telah tertulis pada sebuah catatan oleh Gusti Allah. Akhirnya kami cuma bisa berdoa semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau...

Maaf Kakek.. Aku belum bisa menjengukmu...
Mungkin besuk aku pulang....