![]() |
Sisi Lain |
Aku
melihat dia pertama kali beberapa bulan lalu. Saat itu aku baru
pulang dari Semarang. Desaku terletak agak jauh dari jalan raya, oleh
karena itu terdapat sebuah pangkalan ojek di pertigaan jalan masuk
desaku, sebuah pangkalan ojek yang sudah usang, tergerus oleh
kesombongan zaman. Betapa tidak.. sekarang sudah tidak ada lagi
pengguna jasa ojek, orang-orang sudah punya motor sendiri, meski
dengan cara kreditpun.
Dia
terpekur sendirian di pojokan pangkalan ojek itu, beralaskan
gombal-gombal bekas, berpagarkan secarik terpal usang, beratapkan
seng-seng bolong, sisa sisa pangkalan ojek yang tak terawat. Disitu
pula biasanya aku menanti angkot sewaktu akan pergi.
Rambutnya
gimbal, pakaiannya compang-camping, layak jika hatikku berbisik “
orang gila “ sesaat aku melihatnya.
Beberapa
minggu berlalu, akupun pulang kembali. Aku melihat pemandangan yang
sama di tempat itu, dia masih disitu. Tapi ada sesuatu yang berbeda..
pangkalan ojek itu kini terlihat bersih dan lebih “hidup” dari pada
sebelum orang itu berada disitu..
Dirumah
aku bertanya, siapa sebenarnya orang yang ada di pangkalan ojek itu.
Berita yang beredar di masyarakat adalah bahwa sebenarnya orang itu
adalah “orang pintar”, dan banyak orang-orang yang minta petuah
pada saat malam, dan katanya ia tak pernah kekurangan makanan, bahkan
rokok. Itu karena orang yang datang memberikan makanan plus rokok
kepadanya.
Rasa
penasaranku bertambah, dan malam itu ku putuskan untuk melakukan
“survey”, dan benar saja, ada 2 sepeda motor parkir di ojekan
tua itu, 4 orang tampak berkumpul mengelilingi sebuah lilin remang,
di dalam pojok ojekan berpagar terpal. Seorang berambut gimbal itu
tampak sedang menulis dalam selembar kertas, entah apa.. aku tak
tahu..
Aku
masih berfikir.. sebegitu bodohkah orang – orang di sekitar kita
yang bahkan percaya kepada seorang gila.. pikirku. Namun langsung di
bantah oleh pernyataan ibukku, bahwa katanya orang itu mengerti
maksud seseorang ketika ia datang padanya, sebelum orang itu
menyampaikan maksudnya. Ketika aku bertanya pada ibuku, pernahkah ia
berkunjung ?, jawabannya adalah belum.
Hatiku
semakin penasaran dengan gossip-gosip yang beredar di masyarakat
bahwa katanya dia adalah seorang yang sedang melakukan “tapa
ngrame” yaitu bertapa di tempat yang ramai, mungkin itu terjemahan
yang aku perkirakan. Yang ada di benakku adalah pertanyaan-pertanyaan
rancu, tentang seberapa hebatkah dia, seperti apakah keyakinan dia,
hingga aku merasa ingin menemuinya.
Suatu
hari aku berangkat ke semarang, waktu itu tidak ada yang mengantarku,
hingga aku harus berjalan kaki, dan bisa ditebak, bahwa aku pasti
akan berhenti di ojekan tua itu dan bertemu dengan “orang pintar”
itu.
Benar
saja.. aku sampai di ojekan, dengan berbahasa jawa aku mengucapkan
permisi untuk duduk di bekas ojekan itu, di dekat orang itu. Dan
dengan bahasa yang luwes pula dia menjawab “monggo”. Dia asik
memainkan kartu-kartu remi, sambil sesekali mengucapkan angka –
angkanya dengan suara yang agak keras.. Hatiku terus bergolak, aku
ingin tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan, meski aku tak berani
harus memulai pembicaraan dari mana, tapi aku yakin jika dia
benar-benar bukan orang gila, pasti nyambung diajak bicara.
Di
tengah kegundahanku, tiba-tiba ia bertanya, “ Badhe tindak pundi
mas.?” . sungguh aku tak menyangka, aku tekejut bukan main, dan
akhirnya ku jawab sembari menenangkan diri, bahwa aku mau pergi ke
Semarang. Perlahan keberanianku muncul, akhirnya aku mulai bertanya..
sebenarnya dia berasal dari mana.
Dia
terdiam sesaat.. menimbulkan kekawatiran di hatiku, meskipun akhirnya
dia angkat bicara juga, bahkan dia rela bercerita lebih dari apa yang
aku pertanyakan. Dia berasal dari Malang, sebuah kota yang sudah
tidak asing lagi buatku, meski aku tak hapal betul kota Malang, tapi
aku semakin tahu darimana asalnya ketika ia bilang berasal dari
sebuah pemukiman di pinggiran Kali Brantas, sebelah jembatan arah
menuju terminal Gadang. Daerah itu sering ku lalui ketika aku pergi
ke Malang naik kereta api.
Kemudian
lebih jauh aku bertanya, tentang maksudnya dia menjadi seperti ini,
apa tujuannya…
Dan
akhirnya semua pertanyaanku terjawab sudah, dia bercerita panjang
lebar tentang kehidupan dan tentang hidup pada umumnya, tentang masa
lalu kelamnya, hingga ia mengamputasi telapak kakinya di rel kereta
di sisi stasiun Kota Baru. Cara bercerita yang lugas, dengan bahasa Jawa yang bagus menurutku.
Namun
dibalik semua itu dia tak menyiratkan sebuah “kepintaran” yang
seperti di ceritakan orang-orang, semua yang aku dengar terkesan
bahwa itu adalah curhatnya… hemmh.. atau mungkin dia begitu pandai
menyembunyikan sesuatu yang dipercaya oleh masyarakat di sekitar
desaku, yang terkesan ia seperti seorang “dukun”.. entahlah. Yang
pasti sugesti dan kultus yang sudah berkembang di masyarakat adalah
seperti itu.
Tak
penting bagiku sekarang perkara “orang pintar” menurut
masyarakat, yang ku mengerti adalah dia bukanlah orang gila yang
seperti yang aku perkirakan selama ini. Dan menurutku dia Cuma
menjalani kehidupan ini, dengan caranya sendiri.. dengan prinsipnya
sendiri, dan aku tak mau mencampurinya. Karena pada dasarnya setiap
kehidupan adalah tanggung jawab pribadi dengan Yang Maha Kuasa..
Mungkin
dia ingin mengenang kembali dan menjalankan kembali gaya hidup
“nomaden” seperti yang terjadi pada zaman dahulu..
Itulah
tentang seseorang gimbal di Salaran.. sebuah istilah untuk pangkalan
ojek tua dan usang di kampung halamanku.
Weish.... Enak bener jalan2 mulu gan :) salam kenal, baru mampir dimari ane gan :)
BalasHapushehehe.. trims udah mampir.... hehe..
Hapus. . orang gila ternyata orang pitar semacam dukun gitu?!? emmmmmmmmmmmmmm,, apakah dia gak punya rumah?!? trz anak istri nya gimana?!? . .
BalasHapussaya gak yakin kalo dia orag gila, tapi juga gak yakin kalo dia itu dukun...
Hapushe'em... udah cerai, katanya ditinggal istrinya ke luar negeri...
. . lha trz yakin nya dia orang apa loch?!? he..86x. ouwwwww,, begitu. lalu anak nya gimana?!? kok tega banget bapak nya ditelantarin gitu . .
Hapuskayaknya cuma orang mbambung..... hehehe...
Hapusanaknya juga gak tahu sekarang dimana.... mungkin durhaka... mungkin juga itulah kehidupan yang dipilih orang itu....
. . yachhhhhhhhhh,, kasihan banget ya?!? anaknya gak tau balas budi. huhh . .
Hapuspengamatan yang mendalam :)
BalasHapussalam kenal ^^
sebenarnya hanya karena penasaran..
Hapussalam kenal juga... trims udah mampir..