![]() |
Ilustrasi |
Aku
bangun jam 7 pagi, udara dingin Malang masih terasa menusuk tubuhku,
tapi segera kutepis perasaan itu mengingat aku bukan dirumah sendiri,
aku bergegas ke belakang, cuci muka kamudian berganti pakaian.
Pakaian – pakaian itu diberikan masku untuk aku bekerja.
Ini
adalah hari ketiga saat aku bekerja, seperti biasanya hari – hari
lalu, pekerjaanku masihlah sama. Menyortir tutup botol kratingdaeng
dan gelang – gelang tutupnya. Entah apa maksudnya aku belum paham
waktu itu, hanya kata masku tutup kratingdaeng adalah aluminium, dan
sayang kalau dijual bersama botol kratingdaeng yang 1 kilo harganya
cuma 100 rupiah. Selama seminggu kerjaanku adalah menyortir tutup
botol kratingdaeng, hingga suatu hari aku naik pangkat, yaitu
menyortir plastic (atom) sesuai dengan jenis – jenisnya. Agak susah
memang untuk membedakan jenis yang satu dengan yang lainnya. Butuh
waktu labih dari 2 minggu sampai aku mahir melakukannya.
Itulah
pekerjaan pertamaku setelah aku lulus dari SMA, menata, ngepak,
menyortir rongsok, ada kertas – kertas, plastic, besi, sandal atau
sepatu bekas, bahkan karung – karung bekas. 3 bulan sekali aku
pulang ke Jawa Tengah, kampung halamanku dimana Ibu Bapakku tinggal
serta sahabat – sahabat berada. 3 bulan adalah waktu yang sangat
lama saat itu kurasakan. Dengan gaji 15 ribu perhari (bersih) aku
dapat mengumpulkan uang. Hingga suatu hari aku dapat membelikan
kambing bapakku, meskipun kemudian harus dijual lagi.
……………
Minggu,
Agustus 2008
Hari
ini tidak ada yang setor ke lapak kami, entah kemana semua bakul –
bakul yang biasanya setor. Tidak banyak bakul kami, Cuma 4 orang,
itupun kalau berangkat semua. Sudah dua hari ini tidak ada yang
setor, biasanya ada masalah dengan bosnya (kakakku).
Pengepakan
sudah selesai semua, karena barang – barang cuma sedikit. Akhirnya
kami putuskan (aku dan kakaku) untuk pergi “nyari”.
Sebuah
sepeda motor Yamaha 70 kutumpangi obrok (keranjang) sedangkan kakakku
memakai RC sewaan. Berangkatlah kami, meskipun aku tak tahu
tujuannya, yang penting ngikut saja. Sampai di depan pasar kami terus
mlipir menuju sebuah tempat yang tak lain dan tak bukan adalah tempat
sampah pasar.
Aku
agak kaget, pertama kali ini pikirku. Meski begitu aku kesampingkan
rasa Maluku, mengenakan kaos lengan panjang bertuliskan “
Paskibraka Kec. Subah tahun 2006” dan celana abu – abu yang sudah
sobek dengkulnya serta sepatu yang juga “nemu” di rongsokan, aku
terjun ke tempat bau nan kotor itu.
Plastic
– plastic putih itu kumasukkan ke dalam karung, dari ujung ke ujung
ku sisir seakan tiada yang tersisa, tak jarang “software” bekas
wanita ku temukan, dan tak jarang pula aku “kepleset” pampers…
hehehe… mengerikan..
Setelah
semua karung penuh (kalau gak salah sekitar 8 karung 1 orangnya) kami
pulang. Semua itu kami bawa dalam keranjang (di cantel – cantelno)
sampai dari belakang terlihat seperti sepeda kelebihan muatan. Kalau
sudah seperti ini hilang lah semua rasa malu. Tak peduli di pinggir
jalan yang kotor jika capek kami beristirahat. Bakso rasanya enak
sekali waktu itu, walaupun harganya cuma 3 ribu…
Sesampainya
dirumah, plastik-plastik itu kami jemur biar hilang kotorannya.
Aturannya adalah dalam 1 karung beratnya tidak boleh lebih dari 6
kilo. Jika lebih pasti tidak diterima.
Jam
5 adalah waktu habis kerja, biasanya aku langsung mandi, kemudian
duduk – duduk di ruang tamu sambil nonton tv, atau main sama angga
yang masih kecil dan lucu – lucunya. Disini aku lebih sering
merokok klepas – klepus…. Jadinya kelanjutan sampai sekarang.
Saat
itulah aku mulai merasakan betapa menyenangkan menjadi seorang
pemulung sekalipun, tak perlu risau pada aturan – aturan, bebas,
karena seragamnya memang bebas.. tak perlu takut dilok
no wong,
yang penting jujur….
hidup tanpa aturan memang menyenangkan,,,
BalasHapusbebas bas bas.... hehehe
Hapus